Sudut Pandang Baru
Aku teringat masa-masa sekolahku yang penuh dengan keambisiusan. Bisa dibilang, semasa sekolah aku adalah seorang remaja yang cukup optimis dan bersemangat. Aku suka menuliskan semua keinginan dan pencapaianku di buku jurnal. Hal-hal sepele seperti aku mau apa, aku butuh apa, membandingkan suatu resiko yang ingin kupilih, semuanya kutulis. Apapun yang ada di kepala, kutuangkan pada jurnal. Tapi semenjak lulus sekolah, banyak hal yang berubah di kehidupanku. Perlahan aku mulai tertekan dan merasa gagal dengan semua dahaga yang kutulis. Saking banyaknya hal yang terlampau tidak sesuai dengan keinginanku, aku semakin stress melihat ‘to do list’ , ‘target’, ‘ wishlist’ , maupun ‘resolusi tahunan’ yang belum bisa kuceklis satu persatu. “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.” (Tan Malaka) Kejadian ini dan itu membenturkanku pada sebuah kesadaran. Dulu aku optimis karena belum tahu saja dunia ini seperti apa. Aku hanya duduk di bangku, mataku hanya bisa melihat apa yang ...