Monolog Dini Hari
Pukul 05:04. Selepas sembahyang, aku menatap sosok bayang di depan cermin. Kuselami bayang bola mata di depanku— hingga aku tak lagi sanggup menatapnya. Seharusnya ia bukan orang asing bagiku. Seharusnya aku bisa menyelami bola matanya lebih lama lagi. Who I’m inside? Sudahkah aku menuruti keinginannya? Yang sungguh ia mau. Apakah selama ini yang ia upayakan berasal dari dorongan lubuk hatinya? Ataukah jangan-jangan selama ini ia hanya melakukan dorongan dan tuntutan dari orang sekitarnya saja? Who I’m inside? Apakah pilihan hidupnya selaras dengan pilihan hatinya? Ataukah ia hanya menuruti pilihan yang sudah ditujukan untuknya? Adakah angan-angannya yang terkubur seiring dengan adanya distraksi dan ekspektasi dari luar yang ditanggungkan ke pundaknya? Who I’m inside? Apakah ia telah yakin dengan keputusan hidupnya baik yang berskala kecil maupun yang berskala besar? Jangan sampai keputusannya hanya terbentur dengan dinamika perputaran hidup yang sesaat. Sudahkah ia yakin denga...