Sepasang yang Kusaksikan
Ada sepasang yang selalu kusaksikan jejaknya. Sebagai buah cinta mereka yang pertama, bukan hanya aku yang mereka saksikan tumbuh dan kembangnya. Aku pun menyaksikan mereka; bagaimana mereka tumbuh dan berkembang bersama— memupuk dan mempertahankan jalinan yang terikat.
Mereka bukan sepasang yang sempurna.
Terkadang mereka sama keras kepalanya pada suatu hal kecil hingga menimbulkan
sedikit perselisihan. Salah satu diantara mereka kadang lebih keras dan tak
menerima dengar dari pasangannya. Nada bicara yang tinggi diantara mereka
seringkali hanya menghasilkan perang dingin. Argumen yang berbeda pandang akhirnya
hanya membuahkan pecahan ego yang teredakan sendirinya oleh waktu.
Mereka bukan sepasang yang sempurna.
Masing-masing dari mereka pernah melakukan salah, tapi pada akhirnya hati
mereka selalu bisa memaafkan satu sama lain. Meskipun dalam perjalanannya, ku
tahu ketika salah satu dari mereka melakukan salah, sabar terasa begitu menikam—
menyerah rasanya lebih terlihat gampang dan melambai-lambai. Tapi lagi-lagi
akhirnya mereka bisa mendahulukan sabar dibanding memakan ego yang terlihat
lebih mudah ditelan.
Mereka bukan sepasang yang sempurna. Tapi
melihat mereka kian hari kian ahli berbagi porsi, rasanya itu bukan sesuatu
yang mudah dijalani dan dicapai titiknya. Perjalanan mereka berliku, naik dan
turun. Walaupun sempat mereka berada di garis batas. Tapi nyatanya hati mereka
masih luas untuk melerai, memutus lingkaran setan yang beberapa kali menjebak
perjalanan mereka.
Mereka bukan sepasang yang sempurna. Tapi
ketika hari demi hari kudengar mereka makin lantang tertawa bersama, ku rasa
arus mereka semakin terkendali. Mereka tumbuh dengan apa yang telah mereka
lalui. Sedari kecil aku menyaksikan mereka dan betapa aku belajar banyak dari
perjalanan mereka. Atas apa yang telah dan sedang mereka arungi bersama,
sungguh— mereka bukan sepasang yang sempurna. Tapi mereka sepasang yang luar biasa.
Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira.

Comments
Post a Comment