Posts

26 Pembelajaran di Usia 26

Image
Ini versi pengalaman hidupku: 1. Dengan siapa kamu bergaul, mempengaruhi pola pikirmu.  2. Punya ide? Tulis dan lakukan, jangan banyak mikir. 3. Makin banyak trial & error, makin kamu mengerti.  4. Validasi dari orang lain itu terkadang palsu, jadi jangan dicari.  5. Gagal bukan kamu tidak bisa, coba lagi.  6. Waktu gak bisa diulang, hargai semuanya.  7. Jika ada mimpi yang harus dikubur, buat mimpi baru.  8. Sekali-kali, kamu juga harus mengerti keadaan orang tuamu.  9. Gengsi dan malu menghambatmu, buang!  10. Jangan pernah merugikan orang lain.  11. Allah mendengar dan mengerti kamu.  12. Mendengar dan memahami lebih banyak.  13. Kesempurnaan tak ada di dunia.  14. Semua orang sedang berjuang, semua orang sama-sama lelah.  15. Kamu butuh Allah, salat !  16. Hidup sudah menyiksa, jangan siksa dirimu sendiri.  17. Pertolongan kadang datang saat sudah gelap.  18. Berdamailah dengan sesuatu yang tak bi...

Berawal dari Sepiring Nasi

Image
Kesadaran berasal dari pengalaman atau empati mendalam. Ketika kita mengalami suatu kejadian, kita akan sadar terhadap pengaruh dan dampak dari sesuatu. Atau mungkin kita tidak mengalaminya, tetapi hati kita peka dan terbuka untuk ikut merasakan perkara orang lain. Kalau padaku, kesadaran itu bermula dari sepiring nasi. Apa yang ada di piring kita adalah sebuah usaha yang berasal dari banyak tangan. Mulai dari petani yang menanam sayur dan tumbuhan, peternak yang membudidayakan hewan, pedagang yang mendedahkan bahan pangan, hingga usaha seorang ibu yang mengolahnya menjadi makanan layak santap di dapur.  Karena aku menyadari betapa banyaknya tenaga manusia untuk sepiring nasi yang kusantap, aku jadi tidak sampai hati untuk menyisakannya. Selalu kuusahakan piringku kosong, bahkan dari satu butir nasi. Belum lagi masih banyak orang kelaparan di bumi ini. Ketimpangan sosial dan ketimpangan pangan masih menjadi soal yang tinggi. Betapa sedih rasanya jika kita membuang makanan, seme...

Setelah Badai Reda

Image
Angin kencang, langit hitam, hujan yang tiada ampunnya, guruh yang menyambar. Kini semua itu berubah bentuk menjadi rinai hujan, atau sesekali hujan deras yang hanya membuat menggigil badan saja. Tidak sampai membuat hipotermia, ketakutan, dan lari mencari pegangan. Alhamdulillah, maha baik Allah. Fa inna ma'al-'usri yusrā. Maha benar janji-Mu, ya Rabb. Perlahan hal-hal baik berdatangan. Hal-hal yang dulu disangka tak mungkin, kini sudah berwujud dan bisa dirasakan. Maha baik Allah. Setelah badai reda, yang tersisa hanya genangan dan lumpur pekat yang harus dibersihkan saja. Memang butuh waktu yang tak sebentar untuk membersihkannya. Tapi lagi-lagi, maha baik Allah dengan semua ketentuan dan takdirnya. Semuanya sudah lebih baik dan lebih ringan. Setelah badai reda, bisa kuresapi makna. Kuhargai hal apapun sekecil-kecilnya. Langit telah berganti, perlahan memberi kehangatan dengan sinarnya. Tumbuh harap kembali, tapi kini lebih tabah dan tak tergesa.  Setelah badai reda, bisa ku...

Ke Mana Hidup kan Membawaku?

Image
Ada suatu cita-cita yang terpendam. Tapi ini bukan hanya perkara cita-cita pencapaian biasa. Lebih dari itu, ini adalah cita-cita untuk ketenangan batin, kenyamanan hati, keleluasaan diri. Tapi karena satu dan lain hal, cita-cita ini terasa sangat jauh dan bahkan aku merasa tidak bisa mencapainya. Sesekali aku berkeras diri, tapi tetap tidak membuahkan apapun. Semakin aku berkeras diri, hatiku pun tiada redanya membarakan keinginannya. Hatiku semakin keras, keras, keras, dan akhirnya... Membakar diriku sendiri. Tiada guna berkeras pada hal yang bukan kuasaku, karena memang cita-cita ini tidak bisa dicapai hanya dengan jerih dan inginku saja. Maka sekarang, aku mencoba melepaskannya.  Aku melepaskan cita-cita besarku, menguburnya dalam-dalam tiap kali aku merasa membutuhkannya. Kualihkan pikiranku tiap kali angan-angan itu tiba. Lepaslah, lepaslah. Hidup telah membawaku sejauh dan setangguh ini. Lalu, kemana lagi hidup kan membawaku? Aku sudah tak sanggup melawan derasnya arus. Kini...

Mengkerdilkan Ide

Image
Kadangkala, aku berhadapan dengan layar untuk berpuluh-puluh menit, tapi tak ada hasilnya. Hanya kikuk, mata berkedip-kedip menatap layar. Ide. Terkadang jika dibutuhkan ia tak datang, terkadang juga tiba-tiba datang saat kita tak sedang menghendakinya. Ketika sedang bersantai, melihat lingkungan sekitar, atau sedang bergumam sendiri, seringkali ide datang tak dihendaki. Tapi seringkali aku mengkerdilkannya dan tak segera menuliskannya. Berlaga kuasa dengan dalih tak akan lupa. Akhirnya, ya lupa juga. Maka jika ide itu datang, hal yang pertama harus dilakukan adalah menuliskannya. Entah itu di memo handphone, atau di buku catatan. Beberapa kali ia datang ketika aku sedang mencuci baju atau memasak. Sebagai ibu rumah tangga yang juga punya seorang toodler , aku merasa " kagok " untuk sekedar menyempatkan menuliskannya. Dan, ya, ketika malam hari aku membutuhkannya, lupa. Ide itu ternyata sifatnya seperti hidayah: harus segera dijemput ketika datang. Entah itu sedang dibutuhkan...

Perjalanan Membaca

Image
Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta! — Najwa Shihab —   Aku setuju sekali dengan mbak Nana, karena akupun mengalaminya. Aku akan sedikit bercerita bagaimana perjalanan membacaku. Dulu aku sering menginap di rumah Nenek. Jika ada hari libur sekolah dan Mama mengajak main ke rumah Nenek, aku pasti mau ikut dan berakhir tak mau pulang. Seingatku, kelas 5 SD, aku mulai tertarik dengan membaca. Aku suka membaca buku paket pelajaran sekolah IPA dan IPS. Karena buku IPA dan IPS itu kebanyakan pengetahuan umum, jadi aku merasa familiar dengan apa yang kutemui dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya menyenangkan karena aku jadi tahu banyak hal setelah membacanya. Suatu waktu aku menginap di rumah nenek, dan mendapati buku paket pelajaran milik Pamanku. Pamanku hanya lebih tua dua tahun dariku, sehingga masih sama-sama anak sekolah. Aku membaca buku paket itu, buku IPS dan Agama. Lalu besoknya ketika aku hendak pulang dan dijemput Mam...

Tentang Derana

Image
Tahun-tahun lalu adalah titik terendah hidupku. Pelahan, apa-apa yang melekat padaku diambil nikmatnya, entah itu nikmat secara materi, nikmat tenang, maupun nikmat sehat. Di tahun 2025, aku tak mau terus terpuruk. Aku memutuskan untuk mewujudkan satu mimpiku yang sekiranya masih bisa diusahakan. Dan Alhamdulillah, 17 April lalu aku berhasil memeluk buku puisi pertamaku. Itu satu-satunya mimpiku yang masih bisa diwujudkan, dalam segala keterbatasan hidupku. Sedikit flashback. Sebenarnya dari umur 19 tahun aku telah merancang mimpi itu. Tadinya aku ingin buku puisiku terbit tepat pada saat ulang tahunku yang ke-20, sebagai bentuk menghadiahi diri sendiri. Tapi dulu aku kurang percaya diri, dan merasa malu untuk menerbitkan puisi-puisiku yang ala kadarnya itu. Akhirnya aku menundanya. Tahun-tahun berlalu, banyak hal terjadi di hidupku. Aku memutuskan untuk mengubur semua mimpiku, karena rasanya hidup semakin sulit dijalani. Empat tahun lamanya aku merasa telah mati, banyak sekali hal yan...