Setelah Badai Reda
Angin kencang, langit hitam, hujan yang tiada ampunnya, guruh yang menyambar. Kini semua itu berubah bentuk menjadi rinai hujan, atau sesekali hujan deras yang hanya membuat menggigil badan saja. Tidak sampai membuat hipotermia, ketakutan, dan lari mencari pegangan.
Alhamdulillah, maha baik Allah. Fa inna ma'al-'usri yusrÄ. Maha benar janji-Mu, ya Rabb. Perlahan hal-hal baik berdatangan. Hal-hal yang dulu disangka tak mungkin, kini sudah berwujud dan bisa dirasakan. Maha baik Allah.
Setelah badai reda, yang tersisa hanya genangan dan lumpur pekat yang harus dibersihkan saja. Memang butuh waktu yang tak sebentar untuk membersihkannya. Tapi lagi-lagi, maha baik Allah dengan semua ketentuan dan takdirnya. Semuanya sudah lebih baik dan lebih ringan.
Setelah badai reda, bisa kuresapi makna. Kuhargai hal apapun sekecil-kecilnya. Langit telah berganti, perlahan memberi kehangatan dengan sinarnya. Tumbuh harap kembali, tapi kini lebih tabah dan tak tergesa.
Setelah badai reda, bisa kupetik buah sabar yang selama ini menyesakkan dada. Berbuah manis dengan penuh hikmah. Badai itu meninggalkan sesuatu yang garib: ketabahan dan perlawanan. Juga mengajari untuk selalu merendahkan ekspektasi. Sebuah kesadaran penuh yang membuat haru dan lebih berani.
Betapa pintu-pintu pertolongan itu terbuka setelah benar-benar pasrah dan menyerahkan segala pada kuasa-Nya.

Comments
Post a Comment