Berawal dari Sepiring Nasi

Kesadaran berasal dari pengalaman atau empati mendalam. Ketika kita mengalami suatu kejadian, kita akan sadar terhadap pengaruh dan dampak dari sesuatu. Atau mungkin kita tidak mengalaminya, tetapi hati kita peka dan terbuka untuk ikut merasakan perkara orang lain.

Kalau padaku, kesadaran itu bermula dari sepiring nasi. Apa yang ada di piring kita adalah sebuah usaha yang berasal dari banyak tangan. Mulai dari petani yang menanam sayur dan tumbuhan, peternak yang membudidayakan hewan, pedagang yang mendedahkan bahan pangan, hingga usaha seorang ibu yang mengolahnya menjadi makanan layak santap di dapur. 

Karena aku menyadari betapa banyaknya tenaga manusia untuk sepiring nasi yang kusantap, aku jadi tidak sampai hati untuk menyisakannya. Selalu kuusahakan piringku kosong, bahkan dari satu butir nasi. Belum lagi masih banyak orang kelaparan di bumi ini. Ketimpangan sosial dan ketimpangan pangan masih menjadi soal yang tinggi. Betapa sedih rasanya jika kita membuang makanan, sementata di bagian bumi lain ada manusia lain yang kelaparan dan melakukan segala cara demi mengganjal perut. 

Kesadaran itu terus tumbuh pada hal konsumsi lain; pakaian dan kebutuhan lain. Betapa banyaknya tenaga yang berasal dari satu baju atau satu tube skincare yang kita gunakan. Dan karena aku pernah jadi buruh, aku tahu bahwa banyak sekali buruh pabrik yang digaji dan diperlakukan tidak layak.

Karena kesadaran dan pengalaman tersebut, aku tidak jadi pribadi yang konsumtif dan tahu kata "cukup". Selama pakaian atau barang itu masih layak dan berfungsi sebagaimana mestinya, aku tidak membeli yang baru. Selama aku cocok dengan skincare yang telah kupakai, aku tidak fomo membeli skincare viral yang belum tentu cocok di kulitku.

Aku bersyukur untuk rasa cukup yang sudah tertanam dalam diri. Suatu kesadaran yang harus terus dijaga supaya terus terawat.

Sumber gambar: Pinterest

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self