Tentang Derana
Tahun-tahun lalu adalah titik terendah hidupku. Pelahan, apa-apa yang melekat padaku diambil nikmatnya, entah itu nikmat secara materi, nikmat tenang, maupun nikmat sehat. Di tahun 2025, aku tak mau terus terpuruk. Aku memutuskan untuk mewujudkan satu mimpiku yang sekiranya masih bisa diusahakan. Dan Alhamdulillah, 17 April lalu aku berhasil memeluk buku puisi pertamaku. Itu satu-satunya mimpiku yang masih bisa diwujudkan, dalam segala keterbatasan hidupku.
Sedikit flashback. Sebenarnya dari umur 19 tahun aku telah merancang mimpi itu. Tadinya aku ingin buku puisiku terbit tepat pada saat ulang tahunku yang ke-20, sebagai bentuk menghadiahi diri sendiri. Tapi dulu aku kurang percaya diri, dan merasa malu untuk menerbitkan puisi-puisiku yang ala kadarnya itu. Akhirnya aku menundanya.
Tahun-tahun berlalu, banyak hal terjadi di hidupku. Aku memutuskan untuk mengubur semua mimpiku, karena rasanya hidup semakin sulit dijalani. Empat tahun lamanya aku merasa telah mati, banyak sekali hal yang mengguncang hidupku. Tapi di awal tahun 2025, aku bertekad untuk "hidup" kembali. Kubuka draft naskah puisiku yang dulu, lalu aku mulai menulis lagi.
Bulan Februari lalu, aku mencari penerbit yang bisa merealisasikan keinginanku. Akhirnya aku dapat penerbit yang cocok dan tidak mengecewakan. Dan inilah wujud buku puisiku 🥺❤️
Kunamai ia 'Derana' sebagaimana nama itu menjadi do'a untukku, agar aku selalu tabah dalam menjalani perjalanan di dunia ini.
Awalnya aku sempat merasa ragu dan merasa terlambat untuk mewujudkannya. Tapi akhirnya aku meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini adalah upayaku untuk merasa "hidup" kembali setelah empat tahun terasa mati. Walaupun puisiku ala kadarnya, walaupun tidak ada yang membeli/membacanya, itu tidak berarti apapun. Karena aku menujukan mimpi ini untuk diri sendiri.
Untuk orang "kecil" sepertiku, bermimpi adalah sebuah kemewahan. Mungkin mimpiku ini tak ada artinya untuk orang diluar sana. Tapi bagiku, ini mengantarkan kebahagiaan. Dan karena ini, akhirnya aku merasa "hidup" kembali dari keterpurukan yang telah kulalui.
Aku yakin, bukan aku saja yang sebelumnya telah merasa "mati". Kuharap, siapapun yang sedang merasa "mati" saat ini, selalu berupaya mencari cara untuk "hidup" kembali. Semua yang telah dan sedang lalui, hanyalah sebuah fase yang suatu saat akan berakhir. Tabahlah, mari terus hidup.

Comments
Post a Comment