Monolog Dini Hari

Pukul 05:04.


Selepas sembahyang, aku menatap sosok bayang di depan cermin. Kuselami bayang bola mata di depanku— hingga aku tak lagi sanggup menatapnya. Seharusnya ia bukan orang asing bagiku. Seharusnya aku bisa menyelami bola matanya lebih lama lagi.

Who I’m inside? Sudahkah aku menuruti keinginannya? Yang sungguh ia mau. Apakah selama ini yang ia upayakan berasal dari dorongan lubuk hatinya? Ataukah jangan-jangan selama ini ia hanya melakukan dorongan dan tuntutan dari orang sekitarnya saja?

Who I’m inside? Apakah pilihan hidupnya selaras dengan pilihan hatinya? Ataukah ia hanya menuruti pilihan yang sudah ditujukan untuknya? Adakah angan-angannya yang terkubur seiring dengan adanya distraksi dan ekspektasi dari luar yang ditanggungkan ke pundaknya?

Who I’m inside? Apakah ia telah yakin dengan keputusan hidupnya baik yang berskala kecil maupun yang berskala besar? Jangan sampai keputusannya hanya terbentur dengan dinamika perputaran hidup yang sesaat. Sudahkah ia yakin dengan dirinya, dengan kemampuannya? Sudahkah ia bisa menerima kekurangan dan menyadari apa-apa yang bukan kuasanya? Sudahkah ia bahagia dan akan berbahagia dengan dengan semua yang melekat padanya?

Who I’m inside? Sudahkah aku mengetuk pintu hatinya, menyelami luas sanubarinya, menemukan jawab di dalamnya? Sudahkah aku menerimanya sebagai jiwa dan raga yang selamanya akan kubawa kemanapun? Sejauh apa aku pergi dan berlari, sudahkan aku pulang pada wujudnya?

Hari ini, tepat dua dekade lebih ia ada di dalamku. Sudahkan aku mengenalnya dengan baik? Sudahkan aku menjawab semua tanya yang ada pada inti qolbunya? Sudahkah aku mempercayainya— atau lebih jauh, menyayanginya?

Kutatap lagi bayang bola mata di depanku. Kali ini aku siap menjawab semua pertanyaan retoriknya. Kali ini, akankah ia tersenyum membersamaiku?

Sumber gambar: Pinteres

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self