Sudut Pandang Baru

Aku teringat masa-masa sekolahku yang penuh dengan keambisiusan. Bisa dibilang, semasa sekolah aku adalah seorang remaja yang cukup optimis dan bersemangat. Aku suka menuliskan semua keinginan dan pencapaianku di buku jurnal. Hal-hal sepele seperti aku mau apa, aku butuh apa, membandingkan suatu resiko yang ingin kupilih, semuanya kutulis. Apapun yang ada di kepala, kutuangkan pada jurnal.

Tapi semenjak lulus sekolah, banyak hal yang berubah di kehidupanku. Perlahan aku mulai tertekan dan merasa gagal dengan semua dahaga yang kutulis. Saking banyaknya hal yang terlampau tidak sesuai dengan keinginanku, aku semakin stress melihat ‘to do list’, ‘target’, ‘wishlist’, maupun ‘resolusi tahunan’ yang belum bisa kuceklis satu persatu.

 

“Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.”

(Tan Malaka)

 

Kejadian ini dan itu membenturkanku pada sebuah kesadaran. Dulu aku optimis karena belum tahu saja dunia ini seperti apa. Aku hanya duduk di bangku, mataku hanya bisa melihat apa yang ada di sebrang kelas. Sekolah hanya memperlihatkan tamannya yang indah. Sekolah hanya membangun keoptimisan, tapi tidak dengan membangun kesiapan setelah satu persatu muridnya tak lagi melihat keindahan. Kini aku melihat dunia jauh lebih luas tanpa disekat daun jendela. Pandanganku jauh lebih berwarna daripada hijaunya rumput sekolah. Jadi rasanya wajar sekali aku kaget dan terheran-heran pada awal survive. Hikmah dari pendewasaanku, kini aku bisa menempatkan diri dengan sewajarnya, menaruh dan mempunyai harap tapi tetap memandang sesuatu dengan realistis.

Saat ini aku mempunyai sudut pandang baru; “menikmati hari ini”. Mungkin terdengar sangat sepele dan sangat sering diucapkan orang-orang. Tapi ketika aku menerapkannya di kepala, ternyata efeknya tidak sesepele itu. Aku bisa lebih bersyukur dan tidak terlalu ditelan kecemasan yang berlebihan. Mau hari ini terasa manis ataupun pahit, aku telan saja, aku nikmati saja. Mau dipersiapkan sedemikian rupa pun, masa depan itu sifatnya tetap tidak pasti. Jadi rasanya aku rugi bila tidak hidup untuk hari ini dan menikmatinya.

No more resolustion, just do it. Sekarang aku tak menuliskan lagi semua dahagaku di jurnal. Cukup kusimpan dalam kepala saja agar aku tak tertekan melihat list-listku yang belum bisa kuceklis satu persatu. Masa depan itu tidak pasti dan ketidakpastian itu menyebalkan. Tapi kita tak boleh berhenti mencoba. Just do it!

Sumber gambar: Pinteres

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self