Surat untuk Hujan
Dear Hujan,
Hai hujan, akhir-akhir ini dirimu
sering membasahi bumi ya, terutama di senja hari ketika aku pulang sekolah. Aku
sering melihat kehadiranmu. Begitu kocar-kacirnya larian orang-orang saat dirimu
turun. Haha, lucu sekali ya melihat reaksi mereka ketika dirimu turun.
Apakah
dirimu tahu, hujan? Dirimu selalu berhasil menghipnotis orang-orang. Dirimu
selalu berhasil membuat mereka teringat seseorang yang selalu singgah dihati
mereka masing-masing. Yah, termasuk aku. Dirimu selalu berhasil menghipnotisku.
Sebenarnya, ada mantra apa dibalik dirimu? Kenapa setiap kali aku melihatmu,
kenangan manis yang telah lampau selalu mampir kembali di ingatanku? Bukan aku
terlalu lebay, tapi nyatanya setiap dirimu turun, selalu ada saja
satu kenangan manis yang mampir diingatanku.
Mungkin
karena hal itulah aku suka dirimu, hujan. Aku selalu senang ketika dirimu turun
membasahi bumi.
Aku
suka ketika rintik kecil airmu menempel dengan nyamannya
di daun jendela kamarku, karena ketika rintik airmu telah memenuhi daun
jendela, maka embun akan datang, dan aku bisa menuliskan nama seseorang di
embun itu.
Dear
hujan,
Aku tahu, hujan.
Bukan
dirimu yang membuat langit begitu menakutkan, tapi petirlah yang membuat langit
begitu menakutkan. Bukan dirimu yang menyebabkan orang-orang sakit, tapi
kekebalan tubuh lemah merekalah yang menyebabkan mereka sakit. Bukan dirimu
pula yang membuat alam ini tergenang banjir, tapi orang-oranglah yang membuat
alam ini tergenang banjir. Dengan entengnya mereka membuang sampah, menebang pohon, lalu
menyalahkan dirimu sebagai penyebabnya.
Tak
usah menghiraukan mereka yang menyalahkanmu, hujan.
Ketahuilah,
aku tak pernah menyalahkan kehadiranmu.
Kau adalah rahmat dari Tuhan.
Kau adalah rahmat dari Tuhan.
Hey,
hujan. Aku paling suka menikmati kehadiranmu dengan ditemani secangkir hangat
susu vanilla, atau beberapa batang coklat yang kupadukan dengan membaca
buku.
Lebih
tenang dan lebih rileks rasanya apabila melakukan hobiku yang satu itu sambil
ditemani kehadiranmu.
Apakah
dirimu tahu, hujan? Dirimulah musim yang selalu kutunggu kedatangannya.
Akulah
yang selalu memandangimu setiap kali dirimu turun. Aku senang melihat tanah
gersang terbasahi olehmu. Aku senang melihat daun-daun kembali segar terbasahi
olehmu. Aku senang melihat anak-anak kecil yang sedang bermain begitu ceria
terbasahi olehmu. Dan aku sangat senang bila tubuhku ini terbasahi olehmu,
seolah-olah aku sedang berkomunikasi denganmu.
Dear
hujan,
Jangan
pernah kapok untuk membasahi bumi ini. Karena akan selalu ada orang yang
menunggu kehadiranmu :)
Dariku,
Sang penikmat kehadiranmu.
Sumber gambar: Google Image

Comments
Post a Comment