Ulasan Buku: Le Petit Prince
Hallo, teman-teman ☺
Masih di ulasan Januari. Buku
kali ini yang akan saya ulas adalah buku terjemahan dari Perancis:
Judul : Le Petit Prince (Pangeran
Cilik)
Penulis : Antoine De Saint-Exupery
Penerjemah : Henri Chambert-Loir
Penerjemah : Henri Chambert-Loir
Penerbit & Kota : Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta
Cetakan & Tahun : Cetakan keenam, 2016
Tebal halaman : 120 halaman
Ukuran : 20cm X 13,5cm
ISBN : 978-602-03-2341-1
Ukuran : 20cm X 13,5cm
ISBN : 978-602-03-2341-1
Rating dari saya : 5/5
Tampak dari depan:
Tampak dari samping:
Tampak dari belakang:
Deskripsi dari belakang buku:
Pangeran Cilik termasuk buku yang paling banyak diterjemahkan di
dunia. Konon pernah disadur ke dalam 230 bahasa asing. Buku ini memang luar
biasa. Tampaknya seolah cerita anak-anak, tapi sebenarnya dinikmati dan
direnungkan juga oleh orang dewasa. Lewat cerita seorang anak yang mengamati
dunia dengan mata naif, dan lugu, Saint-Exupéry
menyentuh beberapa nilai dan pengalaman manusia yang paling dasar, seperti
kekuasaan, tanggung jawab, dan cinta. Dongeng yang mengharukan sekaligus amat
mendalam ini termasuk karya-karya agung sastra dunia yang tidak terlupakan.
Le Petit Prince (Pangeran Cilik) merupakan buku terjemahan. Buku ini ditulis oleh Antoine De Saint-Exupery, seorang Pilot dan Penulis asal Perancis. Buku ini pertama kali terbit pada tahun 1943.
Sekilas, ketika melihat
sampulnya, buku ini seperti buku dongeng untuk anak-anak, ditambah lagi, di
dalam buku ini terdapat ilustari yang mencerminkan anak-anak sekali. Berikut contoh ilustrasinya:
Tapi dibalik itu, sungguh teman, buku ini ditujukan bagi
orang dewasa. Buku ini merupakan tamparan keras bagi orang dewasa, melalui
sudut pandang anak kecil. Buku ini termasuk buku sastra yang berat. Di dalamnya
banyak sekali metafora yang sangat mendalam. Bahasa yang digunakan pun cenderung
berat. Sukar untuk dipahami.
“Don’t judge a book by its cover”
Kutipan di atas sangat tajam
sekali bagi buku ini. Meski pun buku ini tergolong buku yang tipis, hanya 120
halaman, tetapi buku ini indah sekali. Buku terindah yang pernah saya baca. Mulai
dari ilustrasinya, kebahasaannya, tentu juga frasa dan metaforanya.
Buku ini mengisahkan seorang Pilot
yang sedang terbang sendirian. Kemudian dia terjatuh di tengah Gurun Sahara.
Dengan segala keterbatasan, dia berusaha untuk memperbaiki mesin pesawatnya
terbang lagi, berusaha seberes-beresnya selama 8 hari. Karena memang persediaan
minumnya hanya cukup untuk 8 hari saja. Ketika dia sedang memperbaiki mesin
pesawat nya, tiba-tiba muncul seorang anak kecil (Pangeran cilik) yang dengan
polos dan lugunya, tanpa wajah cemas meski pun berada di tengan Gurun,
memintanya untuk dibuatkan gambar seekor domba. Coba teman-teman bayangkan, di
tengah Gurun, tempat terkering di muka bumi. Tidak ada air, apalagi pemukiman.
Lalu, datang seorang anak kecil (Pangeran cilik). Tentu kaget, bukan? Pasti
teman-teman bertanya, darimana datangnya anak kecil (Pangeran cilik) tersebut? Begitu pun sang Pilot. Dia pun bertanya. “Darimana kamu datang, Nak?”
Lambat laun sewaktu sang Pilot
memperbaiki mesin pesawatnya, sembari diganggu mengobrol oleh Pangeran cilik,
dia pun tahu darimana asalnya Pangeran cilik tersebut. Di akhir cerita, sang
Pilot pingsan kelelahan, dan berhasil ditemukan oleh teman-teman sesama Pilot
yang mencarinya. Tetapi ia sangat sedih, karena tidak mendapati sang Pangeran cilik
bersamanya. Ke manakah sang Pangeran cilik? Dan darimana pula ia berasal? Hehe,
baca sendiri ya bukunya. Nanti malah spoiler 😋
Sebenarnya, buku ini sudah difilm
animasi kan. Dan saya pun telah menonton filmnya, sebelum membaca bukunya.
Tetapi, ketika saya menonton filmnya, saya tidak mengerti apa maksud dari alur
filmnya. Setelah saya membaca bukunya, saya baru mengerti apa maksud dari
alurnya. Dan memang ada sedikit perbedaan antara alur film dan bukunya.
Rata-rata memang begitu. Ketika sebuah buku difilmkan, biasanya selalu ada
perbedaan antara keduanya. Dalam film, biasanya selalu ditambahkan alur-alur
yang lebih dramatik. Jadi, bagi teman-teman semua yang belum nonton filmya,
saran dari saya, jangan menonton sebelum membaca terlebih dahulu bukunya.
Selain biasanya terdapat ketidaksesuaian, imajinasi kita ketika membaca buku
pun akan terbatasi oleh penampakan film yang telah kita tonton.
Berikut adalah beberapa kutipan
favorit saya dalam buku Le Petit Prince:
Orang dewasa tidak pernah
mengerti apa-apa sendiri, maka sungguh menjemukan bagi anak-anak, perlu memberi
penjelasan terus-menerus.
(Le Petit Prince, halaman 8.)
Orang dewasa menyukai
angka-angka. Jika kalian bercerita tentang teman baru, mereka tidak pernah
menanyakan hal-hal penting. Mereka tidak pernah tanya, “Bagaimana nada
suaranya? Permainan apa yang paling disukainya? Apakah ia mengoleksi
kupu-kupu?” Mereka bertanya, “Berapa umurnya? Berapa saudaranya? Berapa berat
badannya? Berapa gaji ayahnya?”
Jika kalian berkata kepada orang
dewasa, “Aku melihat rumah yang bagus, dibuat dari batu bata merah muda dengan
bunga kerenyam di jendela dan burung merpati di atapnya…”, mereka tidak dapat
membayangkan rumah itu. Kita harus berkata begini, “Aku melihat rumah seharga
180 ribu franc”. Baru mereka akan berseru, “Aduh, betapa bagusnya!”
(Le Petit Prince, halaman 21.)
Seharusnya aku menilai atas dasar
perbuatannya, bukan kata-katanya.
(Le Petit Prince, halaman 39.)
Itu yang paling sulit. Mengadili
diri sendiri lebih sulit daripada mengadili orang lain. Jika kamu berhasil,
berarti kamu betul-betul orang yang bijaksana.
(Le Petit Prince, halaman 47.)
Tetapi orang sombong tidak
mendengarnya. Orang sombong hanya mendengar pujian semata.
(Le Petit Prince, halaman 50.)
Orang-orang dewasa pasti tidak
akan memercayai kalian. Mereka membayangkan dirinya sendiri menduduki tempat
yang amat luas. Mereka melihat dirinya sendiri sepenting pohon-pohon Baobab.
Maka cobalah suruh mereka menghitung. Mereka akan senang saja: mereka gila angka-angka.
Tetapi jangan kalian membuang waktu untuk melakukannya sendiri. Tidak ada
gunanya.
(Le Petit Prince, halaman 71.)
Buatku, kamu masih seorang bocah
saja, yang sama dengan seratus ribu bocah lainnya. Dan aku tidak membutuhkan
kamu. Kamu juga tidak membutuhkan aku. Buat kamu, aku hanya seekor rubah yang
sama dengan seratus ribu rubah lain. Tetapi, kalau kamu menjinakkan aku, kita
akan saling membutuhkan. Kamu akan menjadi satu-satunya bagiku di dunia. Aku
akan menjadi satu-satunya bagimu di dunia.
(Le Petit Prince, halaman 82.)
Hanya lewat hati kita melihat
dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.
(Le Petit Prince, halaman 88.)
Tetapi kamu tidak boleh
melupakannya. Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa
yang telah kamu jinakkan.
(Le Petit Prince, halaman 88.)
Mereka menjejalkan diri ke dalam
kereta api kilat, tetapi lupa apa yang mereka cari. Maka itu mereka
pontang-panting dan hilir-mudik.
(Le Petit Prince, halaman 97.)
Dengan ini, hutang 2 ulasan saya
di bulan Januari sudah lunas. Insya Allah, sampai bertemu kembali di ulasan
Februari ya, teman-teman 😁




Comments
Post a Comment