Ulasan Buku: Trilogi Soekram
Selamat tahun baru, semuanya.
Tahun baru, semangat baru 😊
Di 2018 ini, saya mempunyai
target untuk mengupload 2 ulasan buku setiap bulannya. Dan di awal Januari ini, buku yang akan saya ulas adalah:
Judul : Trilogi Soekram
Penulis : Sapardi Djoko
Damono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2015
Tebal halaman : 273 halaman
No. ISBN : 978-602-03-1478-5
Rating : 4/5 bintang
Tampak dari depan:
Tampak dari samping:
Tampak dari belakang:
Sinopsis dari belakang buku:
Saudara, saya Soekram, tokoh sebuah cerita yang ditulis oleh seorang pengarang. Ia seenaknya saja memberi saya nama. Soekram, yang konon berasal dari bahasa asing yang artinya—ah, saya lupa. Tapi sudahlah. Apa pun nama saya, saya harus menerimanya, bukan? Pengarang itu sudah payah sekali kesehatannya, kalau tiba-tiba ia mati, dan cerita tentang saya belum selesai, bagaimana nasib saya—yang menjadi tokoh utama ceritanya? Saya tidak bisa ditinggalkan begitu saja, bukan? Saya mohon Saudara berbuat sesuatu.
Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono berkisah tentang tokoh Soekram yang tiba-tiba loncat keluar dari cerita dan menggugat sang pengarang. Mengapa ia tak selesai ditulis. Mengapa ia tak bisa menentukan jalan ceritanya sendiri. Mengapa ia tak bisa jadi pengarang. Mengapa kisah cintanya disusun dengan rumit. Antara Soekram dan Ida, Soekram dan Rosa, Soekram dan istrinya (tentu saja). Sejumlah pertanyaan itu membungkus kisah Soekram yang mengambil latar di kampus, rumah tangga, dan peristiwa huru-hara Mei 98. Novel karya penyair besar Indonesia ini menunjukakan hubungan paling kompleks sekaligus paling sejati Antara pengarang dan tokoh di dalam tulisannya.
Buku ini terdiri dari 3 bab. Dan di dalam bab nya, terdapat beberapa sub bab. Buku ini termasuk golongan buku sastra yang berat untuk dibaca. Beberapa kalimat dan paragraf dalam buku ini harus saya baca 2 sampai 3 kali untuk bisa tercerna isinya. Buku ini mengandung banyak frasa dan filosofi yang berat, bahkan bisa di bilang “absurd”. Pada bab 1, saya rasa bacaannya masih cukup ringan. Pindah ke bab 2, bacaannya sudah sedikit berat. Dan beralih ke bab 3, bacaannya benar-benar berat.
Sesuai dengan judulnya, Trilogi Soekram berisi tiga bagian buku yang disusun menjadi satu buku. Terdiri dari bagian: Pengarang Telah Mati (bab 1), Pengarang Belum Mati (bab2), dan Pengarang Tak Pernah Mati (bab 3) yang sebelumnya telah diterbitkan secara berbeda buku.
Konflik dalam buku ini adalah ketidakpuasan tokoh fiksi, yaitu Soekram, terhadap alur yang dibuat penulisnya. Sehingga ia meloncat dari alurnya. Kemudian dia meminta kepada sahabat penulisnya untuk kembali menulis ulang kisahnya. Namun setelah ditulis ulang oleh sahabat penulisnya, Soekram masih merasa belum puas juga. Lalu kemudian ia menulis alurnya sendiri. Untuk menjadi abadi.
Sedikit rumit untuk dipahami, bukan? Tapi itulah letak perbedaan alur buku ini dengan alur buku yang lainnya yang pernah saya baca.
Menurut saya, alur buku ini unik. Alur nya susah di tebak. Setiap lembarnya akan membuat pembaca penasaran, yang kemudian ingin membacanya lagi dan lagi. Hanya dengan membaca beberapa lembar saja, buku ini berhasil membuat saya penasaran. Yang kemudian ingin kembali melahapnya hingga tamat.
Berikut adalah beberapa kutipan
favorit saya dari buku Trilogi Soekram:
Apakah sebenarnya makna sejarah?
Apa pula makna meninggalkan sejarah? Kita ini sedang menciptakan sejarah atau
terbawa dalam arus sejarah? Yang sangat deras. Apakah orang bisa berada di luar
sejarah agar bisa menciptakannya? Dengan kekerasan?
(Trilogi Soekram, halaman 36.)
Tapi itu semua karena langit
belum bersedia sepenuhnya bersih dari awan. Karena langit masih suka dilewati
awan, putih atau hitam tidak dipedulikannya. Langit suka membelai bulu-bulu
awan yang sangat lembut, yang kadang berair sebelum rintik-rintik ke bumi.
Langit memang suka aneh. Ia sayang pada penghujan, tetapi juga kepada kemarau.
Dan bulan Mei ini langit rupanya ingin keduanya ada sehingga rasa sayangnya
bisa ditumpahkan sepenuh-penuhnya.
(Trilogi Soekram, halaman 65.)
Ucapkan terima kasih kepada
jalan, meskipun tidak akan pernah membawamu ke suatu tujuan yang jelas.
(Trilogi Soekram, halaman 100.)
Tidak ada apa pun di dunia ini
selain yang kosong, sebab hanya dalam yang kosong itulah kita menemukan isi.
Isi, dengan demikian hanya bisa ada bersama yang kosong, wadahnya. Bukankah
langit kosong tetapi isi? Dan bukankah hatimu penuh dengan isi tetapi kosong?
(Trilogi Soekram, halaman 112.)
Tuhan yang Maha Pemurah, wahai!
Kami turuti saja apa pun
kehendak-Mu
Yang sepenuhnya bisa kami pahami
Atau yang sama sekali tak kami
pahami
Yang harus kami terima kapan saja
Meskipun kami bersuka atau berduka
Yang harus senantiasa kami
syukuri
Meskipun kami miskin dan papa
Meskipun kami dalam kemelimpahan
dunia
Yang harus kami dengar baik-baik
Meskipun di telinga kiri
terdengar, “ke Selatan”
Meskipun di telinga kanan
terdengar, “ke Utara”
Tuhan yang Maha Pemurah, wahai!
(Trilogi Soekram, halaman 200.)
Siapa gerangan yang berani
mengatakan bahwa ada yang bisa sia-sia?
(Trilogi Soekram, halaman 237.)
Sekian ulasan kali ini, semoga bermanfaat 😁



Ntapsss, terus berimajinasi de
ReplyDeleteTerus berkarya juga kak
Delete