Ulasan Buku: The Storied Life of A.J. Fikry
Hai-hai ^^
ulasan Februari kali ini special bagi saya. Karena sengaja saya update di hari
ulang tahun saya yang ke-18 ini. Hehehe.
Buku kali ini
yang akan saya ulas masih buku terjemahan. Tepatnya terjemahan dari Amerika,
dan buku ini termasuk ke dalam daftar buku-buku terlaris di New York Times. Keren! 🔥 jika di ulasan
Februari I yang lalu tokoh utamanya adalah A.J. Raffles, di ulasan Februari II
kali ini, yang menjadi tokoh utamanya adalah A.J Fikry:
Judul : The Storied Life of A.J. Fikry
Penulis : Gabrielle Zevin
Penerjemah : Eka
Budiarti
Penerbit & Kota : Gramedia
Pustaka Utama,
Jakarta
Cetakan & Tahun : Cetakan pertama, 2017
Tebal halaman : 280 halaman
Ukuran : 20cm X 13,5cm
ISBN : 9786020375816
Rating dari saya : 4,3/5
Tampak dari depan:
Tampak dari samping:
Tampak dari belakang:
Deskripsi dari
belakang buku:
“Manusia tidak bisa
hidup sendiri; setiap buku membuka jendela dunia.”
Hidup A.J. Fikry jauh
dari yang diharapkannya. Istrinya meninggal, penjualan di toko bukunya merosot
tajam, dan hartanya yang paling berharga, koleksi puisi Poe yang langka, baru
saja hilang dicuri. Pelan tapi pasti, A.J. menjauhkan diri dari semua orang di
Pulau Alice. Bahkan ia tak lagi menemukan kegembiraan dari buku-buku di
tokonya. Ia malah menganggap buku-buku itu sekedar penanda bahwa dunia telah
berubah begitu cepat.
Tetapi kemudian paket
misterius muncul di tokonya. Paket itu kecil, meski bobotnya lumayan.
Kemunculannya memberi A.J. kesempatan untuk membuat hidupnya lebih baik dan
melihat semua hal dengan perspektif berbeda. Tak butuh waktu lama bagi
orang-orang di sekitar A.J. untuk menyadari perubahan dalam dirinya. Ia tak
lagi pahit, buku kembali menjadi dunianya, dan semua hal berubah menjadi
sesuatu yang tak ia duga akan terjadi dalam hidupnya.
Buku ini ditulis
oleh Gabrielle Zevin, yaitu Penulis wanita asal Amerika. Pertama kali
diterbitkan pada tahun 2014, dan pertama kali diterjemahkan dalam Bahasa
Indonesia pada tahun 2017 lalu oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Buku ini
bercerita tentang kisah hidup seorang kutu buku, sekaligus penjual buku, yaitu
A.J. Fikry, yang telah ditinggal meninggal oleh istrinya. Ia tinggal di sebuah
Pulau, yang bernama Pulau Alice. Di Pulau Alice, tak ada toko buku lain, selain
toko buku A.J. Itulah yang pertama kali memotivasi dirinya dan istrinya untuk
membangun toko buku di Pulau Alice. Karena menurut mereka, sebuah tempat kurang
lengkap tanpa toko buku. Sejak istrinya meninggal, A.J. menjadi sosok yang kacau. Ia menjadi pecandu
alkohol, pemarah, dan pahit. Bahkan, buku pun bukan lagi sesuatu yang bisa
membuatnya senang. Tak lama dari itu, hartanya yang paling berharga, yaitu buku
Tamerlane yang sangat langka, yang
harganya cukup untuk membeli semua buku di tokonya, berhasil dicuri.
Tapi kemudian,
A.J. mendapatkan suatu ‘kiriman’ yang tidak pernah terduga dalam hidupnya.
Awalnya, A.J. kesal sekali dengan kiriman tersebut. Karena menurutnya, kiriman
tersebut hanya akan semakin menyusahkan hidupnya saja. Tapi perlahan, A.J. pun luluh.
Dan kiriman tersebut sedikit demi sedikit berhasil mengembalikan A.J. menjadi
A.J. Fikry yang dulu lagi, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Apakah ‘kiriman’
itu? Dan siapa yang mengirimkannya? Baca sendiri ya, teman-teman. Saya tak mau
jadi spoiler yang akan mengganggu kenikmatan teman-teman semua ketika membaca
bukunya 😊
A.J. bukanlah penjual buku seperti penjual yang
lainnya. Ia bisa memberikan rekomendasi buku yang bagus kepada para
pelanggannya. Karena memang ia seorang kutu buku. Setelah A.J. mendapatkan
‘kiriman’ yang sedikit demi sedikit berhasil mengubah hidupnya, A.J. pun menikah
dengan seorang wanita yang pernah ditemuinya 4 tahun yang lalu di tokonya.
Mereka pun hidup bahagia dengan kesederhanaan. Di akhir cerita, A.J. meninggal
karena ada penyakit yang tak disangka menggerogoti tubuhnya. Namun A.J. tidak
tergantikan. Namanya tetap harum sebagai kutu buku dan penjual buku di Pulau
Alice.
Karena memang buku ini bertemakan
literasi, jadi banyak sekali quotes yang saya sukai. Berikut quotes nya:
Jangan memperlakukan orang yang
berbaik hati kepadamu dengan buruk.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 11.)
Manusia tidak bisa hidup sendiri;
setiap buku membuka jendela dunia.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 13.)
Mereka hanya membicarakan buku,
tapi apa lagi yang lebih personal dalam hidup dibandingkan buku?
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 22.)
Sulitnya hidup sendirian adalah
kau harus membereskan sendiri semua kekacauan yang dibuatnya.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 23.)
Aku punya gagasan tentang ini.
Ingatlah bahwa pendidikan yang bagus bisa ditemukan di tempat-tempat yang tidak
lazim.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 32.)
Hal-hal yang membuat kita
tersentuh pada usia dua puluhan belum tentu sama dengan hal-hal yang membuat
kita tersentuh pada usia empat puluhan, begitu pula sebaliknya. Hal ini benar
dalam urusan buku, juga kehidupan.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 45.)
Kalau kau mencintai semua orang,
akhirnya kau akan sering terluka.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 68.)
Terkadang buku-buku tidak
menemukan kita hingga saat yang tepat.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 101.)
Tapi memaksa anak-anak membaca
buku seperti itulah yang membuat mereka berpikir mereka tidak suka membaca.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 103.)
Dia kurang suka membaca. Tapi
itulah yang menarik, bukan? Maksudku, rasanya menarik bersama dengan seseorang
yang, eh, ketertarikannya sangat berbeda dari ketertarikanku.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 109.)
Hampir semua hal buruk dalam
kehidupan diakibatkan waktu yang tidak tepat, dan semua hal baik disebabkan
waktu yang tepat.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 113.)
Lebih baik sendirian dibandingkan
bersama seseorang yang tidak sungguh-sungguh kau sukai.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 120.)
Bahkan sekali pun sebuah buku
bagus, terkadang masih tidak laku juga.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 161.)
Suatu hari nanti, kau mungkin
berpikir untuk menikah. Pilihlah seseorang yang berpikir kaulah satu-satunya
orang di ruangan tersebut.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 169.)
Sebuah tempat kurang sempurna
tanpa toko buku.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 212.)
Yang paling menggangguku melebihi
apa pun dalam suatu kisah adalah akhir yang menggantung.
(The Storied Life of A.J. Fikry, halaman
213.)
Cantik bukan alasan bagus untuk
berpacaran dengan seseorang.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 219.)
Ia mendapati manusia melakukan
beragam hal, dan biasanya mereka punya alasan untuk itu.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 223.)
Manusia tidak bisa hidup
sendirian. Atau setidaknya, manusia tidak bisa benar-benar sendirian.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 258.)
Kita membaca untuk mengetahui
kita tidak sendirian. Kita membaca karena kita sendirian. Kita membaca dan kita
tidak sendirian.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 263.)
Kita adalah yang kita cintai.
Kita menjadi diri kita karena kita mencintai.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 265.)
Kalau kau mengatakan kepada
seorang anak bahwa dia tidak suka membaca, dia akan memercayaimu.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 268.)
Dan aku senang mengobrol tentang
buku dengan orang-orang yang suka mengobrol tentang buku. Aku menyukai kertas.
Aku suka rasanya, dan aku suka rasa buku terselip di saku belakangku. Aku juga
suka aroma buku baru.
(The Storied Life of A.J. Fikry,
halaman 269.)
Sekian ulasan Februari dari saya.
Sampai bertemu kembali bulan depan, dalam ulasan Maret. Insha'Allah ☺



Comments
Post a Comment