Ulasan Buku: Cerita dari Digul
Bonjour!
Pada ulasan Maret kali ini, saya
akan mengulas buku keren yang terdiri dari 5 cerita pendek:
Judul :
Cerita dari Digul
Penyunting :
Pramoedya Ananta Toer
Penerbit & Kota :
KPG (Kepustakaan Populer
Gramedia), Jakarta
Cetakan & Tahun :
Cetakan keempat, 2015
Tebal Halaman :
xxiv + 319 halaman
Ukuran : 21cm X 14cm
ISBN : 978-979-91-0952-1
Rating dari saya :
4,7/5
Tampak dari depan:
Tampak dari samping:
Tampak dari belakang:
Deskripsi dari
belakang buku:
Cerita dari Digul
merupakan kumpulan tulisan karya para eks-Digulis. Mereka pernah dibuang
sebagai tahanan politik semasa pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda. Berbagai
cerita itu, yang sungguh-sungguh terjadi, mengisahkan suka-duka mereka dalam
mempertahankan hidup di tanah buangan Digul, Papua Barat. Getir dan
mengharukan.
Karya-karya tersebut,
yang dikumpulkan dan disunting oleh Pramoedya Ananta Toer, layak dicatat sebagai
dokumen sejarah sastra dan bahasa Indonesia. Dua karya, “Antara Hidup dan Mati
atau Buron dari Boven Digul” dan “Minggat dari Digul”, menggambarkan perjuangan
pengarang untuk menggunakan bahasa Melayu, yang bukan Bahasa ibu mereka. Selain
itu, “Pandu Anak Buangan” boleh jadi merupakan satu-satunya karya sastra Indonesia
bertema psikologi hingga 1945.
Sebagai kumpulan
cerita, buku ini bukan saja nikmat dibaca tapi juga memberi kita bahan renungan
tentang makna kemerdekaan hidup sebagai manusia dan bangsa.
Sesuai dengan
deskripsi dari belakang bukunya, buku ini merupakan kumpulan dari 5 cerita
pendek karya para eks-Digulis. Cerita yang ditulis oleh mereka merupakan kisah
yang sungguh terjadi. 5 cerita pendek tersebut kemudian disunting dan dibukukan
oleh Alm. Pramoedya Ananta Toer, tak lain adalah seorang sastrawan hebat
Indonesia, dan satu-satunya sastrawan dari Asia Tenggara yang berhasil menjadi
kandidat untuk nobel sastra.
Berikut judul dan nama pengarang
dari 5 cerita pendek dalam buku ini:
1. “Rustam
Digulis” ditulis oleh D. E. Manu Turoe
2. “Darah
dan Air Mata di Boven Digul” ditulis oleh Oen Bo Tik
3. “Pandu
Anak Buangan” ditulis oleh Abdoe ‘IXarim M.s.
4. “Antara
Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul” ditulis oleh Wiranta
5. “Minggat
dari Digul” ditulis oleh Tanpa Nama (pengarang memang tidak mau menyebutkan
namanya)
For your
information, Digul atau Boven Digul, yang terletak di Papua Barat, tak lain adalah
hutan rimba belantara, tempat pengasingan bagi orang-orang yang dianggap
membahayakan bagi Pemerintah Hindia-Belanda pada zaman sebelum merdeka. Boven
Digul disebut juga Tanah Merah, karena memang tanah di daerah ini berwarna
merah, juga karena kebanyakan orang yang diasingkan ke Boven Digul adalah
antek-antek partai komunis, atau disebut juga antek-antek aliran merah (karena
memang bendera partainya berwarna merah dengan lambang palu arit). Jadi setiap
orang yang dianggap membahayakan, khususnya melakukan propaganda dan termasuk
ke dalam alirannya, akan langsung dikirim ke Boven Digul, bahkan tanpa
diadili/disidang terlebih dahulu.
Boven Digul
bukanlah penjara tahanan, melainkan penjara alam. Orang-orang buangan dibiarkan
bebas hidup di sana. Namun Boven Digul bukanlah suatu tempat yang layak bagi
kehidupan manusia. Mereka diambang-ambang hidup dan mati sebab diasingkan ke
rimba yang penuh rawa dan sungai, penuh nyamuk malaria mematikan, penuh
binatang-binatang buas, juga keadaan orang-orang asli Papua, yaitu suku
Kayakaya, yang masih primitive, belum tersentuh peradaban. Mereka (Kayakaya)
tinggal di dalam hutan dan masih suka memakan daging manusia. Rimba Digul
adalah sebenar-benarnya rimba. Tidak ada tanaman, atau buah-buahan yang aman
dimakan. Tanaman dan buah di sana mengandung racun, juga bisa memabukkan.
Buku ini akan
menambah kosakata asing bagi para pembaca. Karena menggunakan bahasa Melayu
dalam penceritaannya. Terdapat juga bahasa Belanda yang dilontarkan oleh
tokoh-tokoh di dalamnya. Sungguh, buku sejarah satra ini sangat keren! 🔥💘
Kisah dari
setiap cerita dalam buku ini sungguh getir, penuh haru, penuh perjuangan, penuh
duka dan membuat saya merinding. Saya berkali-kali terhenti ketika membaca buku
ini. Karena tak kuat merindingnya. Bukan merinding karena hal-hal mistis. Buku ini
sama sekali tidak mengandung hal-hal mistis. Melainkan merinding karena banyak
hal yang tidak manusiawi.
Cerita pertama
(Rustam Digulis), cerita kedua (Darah dan Air Mata di Boven Digul), dan cerita
ketiga (Pandu Anak Buangan), merupakan kisah roman yang mengharukan dan
memilukan. Sedangkan cerita keempat (Antara Hidup dan Mati atau Buron dari
Boven Digul) dan kelima (Minggat dari Digul), merupakan kisah para digulis yang
mencoba melarikan diri dari Boven Digul. Nah, cerita keempat dan kelima lah
yang membuat saya benar-benar merinding! Banyak sekali bahaya maut ketika para
digulis berada dalam perjalanan untuk melarikan diri. Benar-benar kisah yang
memilukan hati.
Saya sedikit
kecewa pada cerita kelima dalam buku ini. Akhir ceritanya menggantung! Ah, saya
tidak suka akhir cerita yang menggantung. Karena akhir cerita yang menggantung bisa
mengganggu saya. Dalam akhir cerita kelima tersebut, para digulis masih dalam
perjalanan. Entah apa yang terjadi selanjutnya pada mereka. Entah maut yang
menemui mereka, ataukah mereka tertangkap oleh pemerintah lalu dikembalikan
kembali ke Boven Digul, ataukah mereka berhasil keluar dari Boven Digul. Yang pasti,
itu membuat saya susah tidur selama dua hari! 😓
Dalam kisah buku yang sangat
getir ini, saya masih mempunyai mempunyai quotes favorit:
Apa yang dihiraukan pada diploma
itu? Diploma ta’ selamanya menunjukan kesanggupan. Berapakah banyaknya manusia
yang tiada berdiploma tetapi sanggup mempraktikan pekerjaannya?
(Cerita dari Digul, (Rustam
Digulis), halaman 3.)
Betapakah kita cinta kepada
bangsa, kalau ta’ cinta pula pada ekonomi dan industrinya?
(Cerita dari Digul, (Rustam
Digulis), halaman 4.)
Dari itu bersabarlah dan bahwa
sesungguhnya ta’ ada yang sebaik orang penyabar!
(Cerita dari Digul, (Rustam
Digulis), halaman 6.)
Siapa yang ingin dapat harus
berbuat.
(Cerita dari Digul, (Darah dan
Air-Mata di Boven Digul), halaman 29.)
Perkara di Akhirat tidak ada yang
tahu, tapi perjalanan dosa di Dunia saja ada hukumannya.
(Cerita dari Digul, (Darah dan
Air-Mata di Boven Digul), halaman 80.)
Beter iets dan niets! (lebih baik
sedikit dari pada tidak sama sekali)
(Cerita dari Digul, (Antara Hidup
dan Mati atau Buron dari Boven Digul), halaman 175.)
Apa yang kau lihat, dengar dan
baca, musti dipikir betul, dibikin cermin.
(Cerita dari Digul, (Antara Hidup
dan Mati atau Buron dari Boven Digul), halaman 207.)
Satu hal yang sudah terlanjur,
mau atau tidak musti bilang syukur.
(Cerita dari Digul, (Antara Hidup
dan Mati atau Buron dari Boven Digul), halaman 215.)
Keadaan yang memaksa akan memaksa
pula orang timbul akal dan pikiran.
(Cerita dari Digul, (Minggat dari
Digul), halaman 235.)
Barang siapa suka berbuat gampang
tetapi tidak berani menanggung resiko, tentulah tidak akan mendapatkan apa yang
dicita-citakan.
(Cerita dari Digul, (Minggat dari
Digul), halaman 244.)
Bersusah— payah sesungguhnya tidak
ada yang tidak berakhir tanpa sesuatu yang diperoleh, baik berguna bagi diri
sendiri maupun berguna bagi umum.
(Cerita dari Digul, (Minggat dari
Digul), halaman 244.)
Memang tidak mustahil kalau dalam
pergaulan di kolong langit ini ada terjadi yang luar biasa, sebaliknya dalam
pergaulan manusia biasa yang mereka tentu tidak suka disamakan derajatnya
dengan Kayakaya, toch ada juga diantaranya yang luar biasa, kejam dan jahanam!
(Cerita dari Digul, (Minggat dari
Digul), halaman 293.)
Mungkin hanya itu yang saya
sampaikan pada ulasan kali ini. Karena memang buku ini terdiri dari kumpulan cerita
pendek, saya sengaja tidak mendeskripsikan kisah pada buku ini. Nanti yang ada
malah menjadi spoiler bagi teman-teman yang belum membaca buku ini. Spoiler merupakan
sebuah kejahatan dalam membaca! 😋
Baiklah, sampai bertemu kembali
pada ulasan yang selanjutnya ☺



Comments
Post a Comment