Ulasan Buku: The Longest Day

Hari Senin, tanggal 5 Maret yang lalu, saya pergi ke acara Pesta Buku Bandung 2018 yang diadakan di gedung Landmark, Braga, Kota Bandung. Acara tersebut berlangsung dari tanggal 1-7 Maret 2018. Sebanyak 98 stan penjual buku berdiri di acara tersebut. Ada juga beberapa acara lainnya, seperti pelatihan menulis, lomba mewarnai anak, lomba menulis, bedah buku, dan konser musik sebagai hiburan.
Dari Pesta Buku Bandung 2018 tersebut, saya membeli 3 buah buku. Satu buku diantaranya, akan saya ulas pada ulasan Maret II kali ini. Buku ini merupakan buku terjemahan dari bahasa Inggris. Buku ini tua dan bekas, dan hanya berharga Rp. 5.000 saja. Meskipun tua, bekas, dan murah, buku ini tetap keren!
Judul                        : The Longest Day (Hari
                                    Paling Panjang)
Penulis                     : Cornelius Ryan
Alih bahasa             : Sonny Suriaatmadja
Penerbit & Kota      : Sinar Kumala, Bandung
Cetakan & Tahun    : Cetakan Pertama, 1979
Tebal halaman        : 284 halaman
Ukuran                      : 18cm x 11cm
ISBN                          : -
Rating dari saya      : 4,7/5 ⭐

Tampak dari depan:

Tampak dari samping:

Tampak dari belakang:

Deskripsi dari belakang buku:

“BUKU INI AKAN DIBACA 50 TAHUN LAGI”
-New York Times

Bagi pasukan Sekutu ini merupakan hari terakhir kemungkinan melancarkan penyerbuan terhadap benteng pertahanan kebanggaan Hitler di Eropa.
Bagi Hitler dan jenderal-jenderalnya ini merupakan kesempatan emas untuk men-‘smash’ musuhnya dan mendapatkan kembali victory-nya secara total.
Bagi kedua pihak, bagi mereka yang berjuang di daerah pantai dan bagi mereka yang menunggu berita dengan penuh kecemasan di rumah, ini merupakan HARI PALING PANJANG!

Buku ini ditulis oleh Cornelius Ryan, dan dicetak pertama kali pada tahun 1959. Buku ini menceritakan D-Day, atau dalam Bahasa Indonesia disebut Hari-H. Maksud D-Day dalam buku ini adalah hari pertamanya dilakukan penyerangan Sekutu terhadap Nazisme Jerman.
Buku ini merupakan buku sejarah yang menceritakan kisah orang-orang yang terlibat dalam pertempuran pada tanggal 6 Juni 1944, di Pantai Normandia, Perancis.
Tidak seperti buku sejarah yang biasanya, membaca buku sejarah yang satu ini serasa sedang membaca sebuah novel. Bahasanya ringan, mudah dicerna, dan alur yang ditulisnya tidak membosankan.
Buku ini terdiri dari 3 bab. Bab pertama, menceritakan tentang penantian-penantian datangnya D-Day. Pihak Jerman terus mempersiapkan para pasukan, senjata, ranjau, benteng pertahanan, dan strategi untuk menghadapi Sekutu. Pihak Jerman harus selalu ‘melek’ untuk membuntuti pergerakan invansi besar-besaran yang akan dilakukan Sekutu. Jika mereka tidak selalu dalam keadaan siap siaga, malapetaka dari sekutu akan menghampiri mereka. Sedangkan pasukan Sekutu, mereka hampir siap dengan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk penyerangan terhadap Jeman. Akan tetapi, Jendral Perang yang memimpin Sekutu, yaitu Jendral Eisenhower, sedang menghadapi sebuah dilema atas kapan keberangkatan pasukannya untuk berangkat menyerang pasukan Jerman. Masih ada hal-hal yang harus ia pertimbangkan. Dia telah membatalkan perjalanan invasi, dan mengundurkannya menjadi tanggal 6 Juni 1944. Ada lagi penduduk Perancis yang tak sabar menantikan kedatangan Sekutu untuk membebaskan mereka dari cengkraman perintah Nazi Jerman.
Bab kedua mulai getir. D-Day yang dinanti-nanti itu, telah dimulai. Bab ini menceritakan malam pertama penyerbuan Sekutu terhadap Jerman. Pada tengah malam itu, Sekutu mengirim kapal-kapal layang untuk mengangkut pasukan perang beserta senjatanya. Ketika pasukan Sekutu memulai invansi D-Day, pihak petinggi Jerman menganggap mereka hanya menakut-nakuti saja. Mereka mengira bahwa penyerbuan Sekutu itu bukanlah invansi yang sesungguhnya. Padahal pasukan armada kapal Sekutu yang jumlahnya fantastis sedang menyusul di laut sana untuk menyerang Jerman. Pada saat itu, para petinggi Jerman sedang tidak berada di dekat tempat pertempuran. Para anak buahnya yang mulai kewalahan, telah melaporkan serbuan Sekutu itu kepada para petingginya, dan meminta bala bantuan pasukan baja segera dikirimkan. Tetapi kefatalan telah terjadi. Petinggi jerman tidak percaya terhadap anak buahnya. Mereka mengira bahwa anak buahnya itu terlalu melebih-lebihkan. Bahkan ketika Sekutu menyerbu Jerman, Hitler sedang tidur dengan nyenyaknya.
Bab ketiga lebih getir lagi. Bab ini menceritakan pertempuran siang hari setelah malam penyerbuan. Armada kapal Sekutu yang berjumlah lima ribu kapal, membawa lebih dari dua ratus ribu orang pasukannya, telah membanjiri pantai. Dan akhirnya, karena kesombongan para petinggi Jerman yang tidak mempercayai anak buahnya, Kerajaan ketiga Jerman berhasil dilumpuhkan oleh Sekutu.
Buku ini memberi gambaran bagaimana mengerikannya perang, bagaimana begisnya para musuh. Di dalam perang, tidak ada lagi rasa kemanusiaan. Saya merinding membacanya. Meskipun buku ini bukan buku sejarah tanah air kita, Indonesia, tapi saya masih merasakan keharuannya.

Sekian saja untuk ulasan kali ini. Seperti biasa, saya selalu mempunyai kutipan favorit dari sebuah buku. Bahkan buku sejarah sekalipun:

Saat ini saya hanya mempunyai satu macam musuh yang nyata. Musuh itu adalah waktu.
(The Longest Day, halaman 19.)

Perang memang membuat manusia menjadi ganas.
(The Longest Day, halaman 162.)

Sungguh suatu hal yang menyakitkan hati kalau tanah air kita ada yang menembaki dengan meriam. Tapi hari ini justru saya perintahkan pada kalian untuk melakukan bombardemen itu!
(The Longest Day, halaman 184.)

Perang menyebabkan manusia menjadi berubah.
(The Longest Day, halaman 195.)

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self