Ulasan Buku: Pingkan Melipat Jarak

Hallo ^^ rasanya baru tahun baru ya. Nyatanya, 2 hari lagi kita semua akan memasuki bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Hehehe. Pada kesempatan kali ini, saya akan mengulas buku kedua dari Trilogi Hujan Bulan Juni. Buku pertamanya sudah saya ulas bulan lalu, nah sekarang saya lanjut buku keduanya:
Judul                     : Pingkan Melipat Jarak
Penulis                  : Sapardi Djoko Damono
Penerbit & Kota    : Gramedia Pustaka Utama, 
Jakarta
Cetakan & Tahun : Cetakan pertama, 2017
Tebal halaman     : 121 halaman
Ukuran                   : 20cm x 13,5cm
ISBN                       : 978-602-03-3975-7
Rating dari saya   : 4.0/5

Tampak dari Depan:

Tampak dari samping:

Tampak dari belakang:


Deskripsi dari belakang buku:

Selalu ada saat ketika kita tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling dan bertahan semampu kita untuk tidak melepaskan air mata menjelma sungai tempat berlayar tukang perahu yang mungkin saja bisa memberi tahu kita, Ke sana, Saudara, ke sana.
Selalu ada kapal yang mendadak bergoyang bahkan ketika tidak ada sama sekali angin di samudra bahkan ketika tidak ada pun yang terasa bergerak kecuali dua ekor camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa sangat letih tetapi tidak melihat apa pun yang bisa dihinggapinya kecuali sebuah bahtera yang bergoyang keras ke sana kemari terlempar ke atas menghujam kembali ke permukaan menciptakan percik-percik air dan melempar-lemparkan gumpalan-gumpalan air sehingga tidak mungkin dihinggapi tiang layarnya walau hanya sejenak. Walau demi dua ekor camar sangat letih yang terus-menerus terbang agar tetap bisa memelihara kasih sayang. Walau hanya sejenak.

Buku kedua dari Trilogi Hujan Bulan Juni ini, melanjutkan kisah rumitnya antara Sarwono, Pingkan, dan Katsuo. Perjalanan di buku kedua ini semakin rumit. Sarwono dan Pingkan sama-sama sakit akal.
Katsuo sangat tahu bahwa Sarwono dan Pingkan saling mencintai. Meskipun Katsuo sama-sama cinta kepada Pingkan, namun di buku ini Katsuo menunjukkan sifat kedewasaannya. Ia ingin melihat Pingkan bahagia, dan kebahagiaan Pingkan adalah Sarwono. Maka dari itu, Katsuo mencoba untuk mengembalikkan kesehatan akal mereka berdua (Sarwono dan Pingkan) agar mereka bisa bersatu dalam ikatan. Namun tidak mudah bagi Katsuo untuk mengembalikkan akal mereka. Sarwono sakit, tentu saja. Pingkan juga sakit. Penyakit mereka sama; kehilangan mabui.
Buku ini rumit. Sungguh. Dan buku-buku karya Eyang Sapardi Djoko Damono, memang selalu rumit. Tapi kerumitan itu yang membuat saya tertantang untuk membacanya. Buku kedua dari Trilogi Hujan Bulan Juni ini lebih tipis dari buku sebelumnya. Namun lebih rumit! Bahasa yang digunakan Eyang Sapardi selalu tinggi. Dan ada beberapa yang membuat saya gagal memahaminya. Namun itu yang membuatnya keren! Bagi saya, semakin tinggi bahasa yang digunakan, semakin pembaca sukar memahaminya, semakin keren tulisan itu! Hehehe.

Mungkin itu saja ulasan dari saya. Berikut beberapa kutipan favorit saya dalam buku rumit ini:

Ia beriman kepada takdir, yang tidak mengenal seandainya.
(Pingkan Melipat Jarak, halaman 13.)

Memang tidak ada cara lain kecuali memahaminya. Dan menerimanya.
(Pingkan Melipat Jarak, halaman 21.)

Tanpa rasa sakit, jiwa kita kosong belaka.
(Pingkan Melipat Jarak, halaman 74.)

Waktu rontok detik demi detik dan tidak bisa dikembalikan ke sebermula.
(Pingkan Melipat Jarak, halaman 98.)

Pada suatu saat yang ditetapkan, orang harus memiliki nyali untuk membungkuk kepada dirinya sendiri.
(Pingkan Melipat Jarak, halaman 105.)

Selalu ada saat ketika kita tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling dan bertahan semampu kita untuk tidak melepaskan air mata menjelma sungai tempat berlayar tukang perahu yang mungkin saja bisa memberi tahu kita, Ke sana, Saudara, ke sana.
(Pingkan Melipat Jarak, halaman 106.)

Apa yang dilakukan jauh lebih menjelaskan dari apa yang dikatakan.
(Pingkan Melipat Jarak, halaman 114.)

Kenangan adalah fosil—tidak akan bisa menjadi abu, malah memiliki kekuatan untuk mendikte jarum-jarum jam agar berputar ke kiri.
(Pingkan Melipat Jarak, halaman 118.)

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self