Ulasan Buku: Hujan Bulan Juni

Selamat malam. Malam ini bulan cantik sekali, ya. Bentuknya purnama dan cahayanya terang. Di akhir bulan April ini, saya akan mengulas buku:
Judul                       : Hujan Bulan Juni
Penulis                    : Sapardi Djoko Damono
Penerbit & Kota     : Gramedia Pustaka Utama, 
                                   Jakarta
Cetakan & Tahun   : Cetakan keduabelas, 2017
Tebal halaman       : 135 halaman
Ukuran                     : 20cm x 13,5cm
ISBN                         : 978-602-03-1843-1
Rating dari saya     : 4,0/5

Tampak dari Depan:

Tampak dari samping:

Tampak dari belakang:

Deskripsi dari belakang buku:

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyian sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.

         Dari puisi, menjadi lagu, kemudian komik, dan nanti film, kini puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono beralih warna menjadi novel.

       Di kalangan para pembaca buku, siapa sih yang tak kenal dengan buku fenomenal yang satu ini? Siapa pula yang tak kenal dengan puisi yang satu ini:

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Mulanya, “Hujan Bulan Juni” adalah judul buku puisi karya Sapardi Djoko Damono, yang kemudian diadaptasikan menjadi sebuah novel dengan judul yang sama. Novel ini pertama kali terbit pada bulan Juni, tahun 2015.
Novel ini merupakan Novel berbentuk Trilogi. Novel pertamanya yaitu ini, “Hujan Bulan Juni”. Novel keduanya yaitu berjudul “Pingkan Melipat Jarak”. Dan novel ketiganya yaitu berjudul “Yang Fana Adalah Waktu”, yang baru saja terbit bulan Maret lalu.
Trilogi Hujan Bulan Juni menceritakan kisah dari dua dosen muda, yaitu Sarwono dengan Antropologi nya, dan Pingkan dengan Sastra Jepang nya. Sarwono adalah pemuda Jawa yang lusuh dan kuno. Ia pandai menulis, khususnya berpuisi. Bahkan, ia hidup dari bayaran tulisannya yang selalu dimuat dalam koran. Pingkan adalah adik cantik dari Toar, tak lain adalah sahabatnya Sarwono. Mereka (Sarwono dan Pingkan) tidak terikat dalam suatu hubungan. Namun mereka tahu, bahwa mereka saling mencintai. Mereka selalu bersama, tak heran jika kerabat kampus dan kerabat sesama mereka menyangka bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Namun tetap ada saja liku yang harus mereka hadapi untuk bisa menjadi sepasang merpati dalam sarang yang sama.
Dalam novel pertamanya ini, perjalanan mereka penuh dengan liku. Mulai dari perbedaan suku, Pingkan dari Medan, Sarwono dari Jawa. Perbedaan Agama, Pingkan Kristen, Sarwono Islam. Bibi-bibi dari Pingkan yang tak menginginkan Sarwono. Dan liku yang sangat Sarwono takutkan, yaitu Katsuo. Pemuda asal Jepang yang akan menemani Pingkan selama melanjutkan study di Negeri Sakura. Akhir cerita dari buku ini menggantung, dan dilanjut ceritanya dalam novel kedua, “Pingkan Melipat Jarak”.
Walaupun buku ini tipis, tapi tak bisa langsung dicerna begitu saja. Buku-buku karya Sapardi Djoko Damono memang selalu berisi. Bahasa yang digunakannya selalu indah dan dalam. Tak heran jika beliau adalah salah satu sastrawan ternama Indonesia yang mendapat banyak penghargaan.
Di bulan November 2017 lalu, telah ditayangkan di seluruh bioskop Indonesia, adaptasi film dari buku ini, dengan judul yang sama. Sarwono diperankan oleh Adipati Dolken, Pingkan diperankan oleh Velove Vexia, dan Katsuo diperankan oleh Koutaro Kakimoto, aktor asal Jepang. Saya belum sempat nonton filmnya sih, jadi belum tahu kesan filmnya seperti apa, hehe.

Mungkin begitu saja yang dapat saya sampaikan. Seperti biasa, ini dia kutipan favorit dari buku ini:

Penyair adalah pembaca pertama puisinya sendiri.
(Hujan Bulan Juni, halaman 3.)

Ibu itu perawatnya perawat, dewinya dewi—tidak jarang juga tirannya tiran.
(Hujan Bulan Juni, halaman 5.)

Bahkan puisi yang ditulis ketika seorang merasa sepenuhnya tenang masih juga dibaca sebagai ungkapan yang kisruh.
(Hujan Bulan Juni, halaman 25.)

Kesepian adalah benang-benang halus ulat sutera yang perlahan-lahan, lembar demi lembar, mengurung orang sehingga ulat yang ada di dalamnya ingin segera melepaskan diri menjadi wujud yang sama sekali berbeda, yang bisa saja tidak ingat lagi asal-usulnya.
(Hujan Bulan Juni, halaman 81.)

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self