Ulasan Buku: Student Hidjo
Buku yang akan
saya ulas kali ini adalah salah satu buku yang saya beli dari event Jabar
Bookfair 2018, pada tanggal 6 Agustus lalu. Event tersebut berlangsung dari
tanggal 1-7 Agustus, di Gedung Landmark, Braga, Kota Bandung.
Judul :
Student Hidjo
Penulis :
Mas Marco Kartodikromo
Penerbit & Kota :
Narasi, Yogyakarta
Cetakan & Tahun :
Cetakan pertama, 2018
Tebal halaman :
vi + 186 halaman
Ukuran :
13 x 19 cm
ISBN :
979-168-557-6
Rating dari saya :
3.5/5
Tampak dari depan:
Tampak dari samping:
Tampak dari belakang:
Deskripsi dari
belakang buku:
“Saya Cuma seorang
saudagar. Kamu tahu sendiri. Waktu ini, orang seperti saya masih dipandang
rendah oleh orang-orang yang menjadi pegawai Gouvernement. Kadang-kadang
saudara kita sendiri, yang juga turut menjadi pegawai Gouvernement, dia tidak
mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita
yang hanya menjadi saudagar atau petani. Maksud saya mengirimkan Hidjo ke
Negeri Belanda itu, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa
mengerti bahwa manusia itu sama saja. Buktinya anak kita juga bisa belajar
seperti regent-regent dan pangeran-pangeran.”
Meskipun dilema
melanda hatinya, karena meninggalkan ibunya dan kekasihnya, Raden Adjeng Biroe,
Hidjo akhirnya tetap berangkat ke Belanda naik kapal Api Gunung. Raden
Portonojo mengirimnya ke Belanda untuk sekolah Insinyur.
Novel Karya Mas Marco
Kartodikromo ini pertama kali ditulis tahun 1918 sebagai cerita bersambung di
harian Sinar Hindia, kemudian terbit sebagai buku tahun 1919. Novel ini
merupakan salah satu novel perintis yang melahirkan sastra perlawanan, sebuah
fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang. Di mana, novel ini menggambarkan
tentang situasi zaman pergerakan menuju Indonesia, kemajuan berpikir lewat
sekolah-sekolah bentukan Belanda dan pandangan-pandangan terhadap dunia Jawa
yang makin bergerak.
Apakah Hidjo mampu
menyelesaikan studinya di Belanda?
Sesuai dengan deskripsi dari
belakang buku, Student Hidjo pertama kali terbit sebagai buku pada tahun 1919.
Sebelumnya hanya terbit sebagai cerita sambung harian di media cetak Sinar
Hindia. Cerita buku ini ditulis oleh Mas Marco Kartodikromo, yaitu penulis dan
jurnalis pada pemerintahan Hindia-Belanda.
Menceritakan tentang kehidupan
seorang pemuda bernama Hidjo, serta keluarganya. Dikarenakan Hidjo adalah
seorang pemuda yang baik, rajin, juga cerdas, orang tua Hidjo mengirim Hidjo ke
Belanda untuk sekolah sebagai Insinyur. Namun Ibunda Hidjo, merasa khawatir
dengan Hidjo. Ibunda Hidjo khawatir Hidjo akan terbawakan buruknya budaya
Eropa. Ibunda Hidjo tahu, godaan besar pemuda yang bersekolah ke Negeri Belanda
adalah wanita. Wanita-wanita Eropa sangatlah berani. Dan Ibu nya khawatir
karena Hidjo telah dia jodohkan, bahkan telah ia tunangkan.
Setelah Hidjo berangkat ke Belanda,
ibu Hidjo dan tunangannya, Raden Adeng Biroe, sakit karena terlalu keras
mengkhawatirkan Hidjo. Keluarga Hidjo pun memutuskan untuk berlibur ke tempat
pemandian berudara segar Barataadem. Di sana secara tidak sengaja mereka
bertemu dengan keluarga Djarak. Keluarga Djarak sangatlah baik dan rendah hati
kepada keluarga Hidjo. Karena itu, mereka menjalin tali kekeluargaan yang
sangat baik, dan tali kekeluargaan itu terus berlanjut.
Buku ini
merupakan buku roman yang di
dalamnya terdapat kritikan “pedas” bagi pemerintah Belanda, yang pada
waktu dulu menjajah Negeri ini.
Buku ini pada zamannya dilarang beredar oleh pemerintah Belanda, karena dianggap buku berbahaya yang mengandung unsur perlawanan terhadap pemerintahannya.
Alur di dalam
buku ini sebenarnya sangat
sederhana dan gampang sekali ditebak. Bagian yang saya sukai dari buku ini adalah ketika Controleur dengan
beraninya menangkis dan melawan Sergeant Djepris, ketika Sergeant Djepris
merendahkan kaum bumiputera (pribumi). Padahal Contoleur sendiri adalah seorang
Belanda.
Bahasa yang
digunakan buku ini adalah bahasa melayu. Karena memang itu adalah Bahasa yang digunakan pada zaman buku ini
dibuat. Namun Ejaannya sudah diubah, sehingga pembaca tidak akan pusing ketika
membacanya. Namun ketika tokoh-tokoh dalam cerita ini menulis surat, isi surat
tersebut masih dituliskan dalam Bahasa melayu. Mungkin editornya ingin tetap
mempertahankan keaslian melayu-nya dalam cerita. Tak apa, menurut saya itu hal
yang bagus, pembaca bisa mengenal induk
dari Bahasa Indonesia.
Di era milenial ini, mungkin anak
‘kekinian’ akan kurang suka terhadap bahasa yang digunakan dalam buku ini,
mungkin mereka akan menganggap buku ini kuno dan tertinggal zaman. Namun berbeda lagi bagi saya. Semakin
klasik suatu buku, di mata saya buku itu semakin keren. Hehehe.
Mungkin itu saja yang dapat saya jabarkan,
selebihnya, saya takut menspoiler. Jadi sudah cukup ya. Hehehe. Berikut kutipan
yang saya sukai dari buku ini:
Lebih baik diam daripada berkata
yang tidak ada gunanya.
(Student Hidjo, halaman 6.)
Kalau di Negeri Belanda, dan
orang-orangnya cuma begini saja keadaannya, apa seharusnya, orang Hindia musti
di perintah oleh orang Belanda?
(Student Hidjo, halaman 50.)
Karena sesungguhnya manusia itu
tidak ada bedanya, baik bangsa bumiputera maupun bangsa Belanda dan lain-lain.
(Student Hidjo, halaman 116.)
Tuan berkata, ‘orang Jawa kotor’,
tetapi Tuan toh mengerti juga bila ada orang Belanda yang lebih kotor daripada
orang Jawa?
(Student Hidjo, halaman 155.)
Orang Jawa bodoh, kata Tuan.
Tentu saja, karena pemerintah memang sengaja membuat bodoh kepadanya. Mengapa
Regeering tidak membuat sekolahan yang secukupnya untuk orang Jawa atau orang
Hindia. Sedang semua orang tahu, jika tanah Hindia itu yang membuat kaya kita,
Nederland.
(Student Hidjo, halaman 156.)
Orang Jawa malas, kata Tuan pula.
Tuan toh mengerti juga ada beribu-ribu orang Jawa yang seharian masuk kerja
sampai mandi keringat sekadar mencari sesuap nasi. Apakah memang sudah
semestinya dia bekerja terlalu berat? Sedangkan tanahnya adalah tanah yang kaya
raya. Adakah di Negeri Belanda orang bekerja seberat itu hanya mendapat bayaran
25 ct atau 30 ct seperti orang Jawa? Tidak ada kan?
(Student Hidjo, halaman 156.)
Apakah karena orang Jawa tidak
mendapatkan pelajaran dari sekolah seperti orang Eropa, lalu Tuan berkata tidak
beschaafd? Saya tahu betul, bahwa
orang Jawa adatnya lebih halus, pikirannya lebih dalam daripada orang Eropa
kebanyakan.
(Student Hidjo, halaman 156.)
“Mengapa orang Belanda yang telah
lama tinggal di Hindia, lalu berubah perangainya.” Yang berpikiran demikian
bukan hanya orang bumiputera saja. Orang Belanda totok yang belum pernah datang
ke Hindia juga berpikiran demikian.
(Student Hidjo, halaman 159.)



Comments
Post a Comment