Ulasan Buku: Gardens of Water

    Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena belakangan ini saya sering telat mengupload ulasan buku (padahal gak ada yang peduli juga wkwk). Semakin dewasa, waktu saya semakin terampas oleh kesibukan. Tapi kesibukan yang saya rintis ini bertujuan untuk masa depan saya sendiri. Anak muda memang seharusnya produktif dengan kegiatan-kegiatan positif untuk mewujudkan mimpinya. Ya kan? Hehehe. Langsung saja ke judul buku yang akan saya ulas:
Judul                     : Gardens of Water
Penulis                  : Alan Drew
Alih Bahasa          : Arum Darmawan
Penerbit & Kota   : Literati, Ciputat
Cetakan & Tahun : Cetakan pertama, 2009
Tebal halaman     : 654 halaman
Ukuran                   : 13 x 19 cm
ISBN                       : 978-979-19784-0-8
Rating dari saya   : 4,2/5

Tampak dari depan:

Tampak dari samping:

Tampak dari belakang:

Deskripsi dari belakang buku:
Gardens of Water bertutur tentang kehidupan dua keluarga, Kurdi dan Amerika, serta pengorbanan dan cinta yang mengikat mereka. Dengan piawai Alan Drew menarasikan ikatan yang kuat antara ayah, anak laki-laki, dan anak perempuan; ketegangan antara menghormati tradisi dan memeluk kebebasan pribadi; konflik antara budayaan dan keyakinan; penyesalan orang tua dan gairah anak muda—inilah topik yang tak lekang zaman. Pelbagai tema tersebut dijalin dalam sebuah cerita yang mengaduk-ngaduk emosi seolah-olah tokoh-tokoh dalam cerita ini adalah sosok yang real karena begitu hidupnya alur cerita yang terbangun.

“Musuh sang ayah tak akan pernah menjadi kawan sang anak.
(peribahasa Kurdi)

Arti dari QS. 99:1-8, serta kalimat di atas menjadi pembuka buku ini. Saya sempat melamun sejenak ketika membaca kalimat di atas. Maksudnya (kalimat itu) bagaimana? Benarkah seperti itu?
Gardens of Water adalah buku pertama yang ditulis oleh Alan Drew, pertama kali diterbitkan pada tahun 2008 oleh penerbit Random House, New York. Cerita dalam buku ini mengenai hubungan antara orang tua dan anak, konflik Negara, kenakalan remaja, agama, serta budaya.
Isi dari buku ini menceritakan kehidupan dua keluarga. Keluarga yang dikepalai oleh Sinan; Nilufer istrinya, Irem anak pertamanya, serta Ismail anak bungsunya. Juga keluarga Amerika yang dikepalai oleh Marcus; Sarah Hanim istrinya, dan Dylan anak tunggalnya. Dua keluarga ini mempunyai latar belakang yang sangat bertolak belakang. Sinan dari Kurdi, beragama Islam, berbudaya Timur. Marcus dari Amerika, beragama kristen, berbudaya Barat.
Ketika Sinan kecil, ayah Sinan terbunuh dari peperangan antar suku Kurdi dan Turki, dan bangsa Amerika lah yang men-supply senjata kepada Turki untuk digunakan kepada suku Kurdi. Ayahnya berpesan bahwa Turki dan Amerika sama saja kejamnya, maka dari itu ayahnya berpesan jangan pernah mendekati orang-orang Turki, maupun Amerika. Itu sebabnya Sinan tidak menyukai keluarga Marcus, sebab Marcus berasal dari Amerika. Sinan dan Marcus tinggal di Turki. Walaupun Sinan tidak suka Turki, tapi ia tetap harus tinggal di sana demi menyelamatkan keluarganya, karena Kurdi masih dilanda peperangan. Namun Sinan menyembunyikan identitasnya sebagai orang Kurdi. Jika pemerintah tau, pasti Sinan sudah ditembak mati.
Apartemen keluarga Sinan tepat berada di bawah apartemen keluarga Marcus. Diam-diam, anak-anak remaja mereka, Irem dan Dylan saling mengenal secara sembunyi-sembunyi. Irem dan Dylan saling mengenal lewat jendela Apartemen mereka. Irem melihat ke jendela atas, dan Dylan melihat ke jendela bawah.
Suatu hari, ada gempa besar yang meratakan semua daratan Turki. Dari sini lah semua permasalahan di mulai. Sinan harus mengurus keluarganya dalam keadaan yang sangat terbatas. Istri Marcus, Sarah Hanim, meninggal dalam bencana gempa tersebut demi menyelamatkan Ismail, anak bungsu Sinan, dari reruntuhan tembok.
Setelah gempa, Marcus dan Dylan pulang ke Amerika untuk menguburkan jenazah Sarah Hanim. Karena bantuan dari pemerintah Turki sangat lambat sekali datangnya, Marcus dan Dylan memutuskan untuk kembali lagi ke Turki, sembari mengajak kawan-kawan relawannya dari Amerika untuk membantu para korban gempa agar tetap bertahan hidup.
Dari awal, Sinan enggan menerima bantuan dari orang-orang Amerika. Namun karena rasa berhutang budinya pada istri Marcus, Sarah Hanim, serta melihat keadaan Sinan yang terluka, Sinan pun mau menerima bantuan Marcus dan para relawan Amerika untuk meringankan tanggungannya. Ternyata Marcus tidak datang dengan tulus ingin membantu. Ada hal lain yang ia, serta kawan-kawannya inginkan. Setelah selesai membaca cerita ini, barulah saya mengerti apa maksud dari kutipan “Musuh sang ayah tak akan pernah menjadi kawan sang anak”.
Cerita dalam buku ini mengaduk-ngaduk emosi saya. Akhir dari ceritanya membuat saya merasa sesak. Apalagi atas apa yang terjadi menimpa Irem. Kedengarannya memang lebay, tapi bagi orang yang suka membaca buku, itu adalah hal yang biasa. Seorang pembaca buku terkadang masih terjebak dalam alur cerita yang ada di dalam buku, walaupun sudah tamat membacanya.

Buku ini membukakan mata saya terhadap bangsa adidaya dan adikuasa, Amerika. Buku ini juga mengajarkan pembacanya banyak hal. Walaupun ceritanya fiksi, hanya imajinasi Alan Drew saja, tapi amanatnya bisa tersampaikan dengan baik. Seperti biasa, sebagai penutup, berikut saya sempilkan kutipan favorit di balik buku ini:

Bahwa semua ini adalah bagian dari rencana-Nya, bagian dari peringatan-Nya agar manusia tidak terlalu hanyut dengan waktu hidupnya yang sementara di bumi ini.
(Garden of Water, halaman 132.)

Dan begitulah caranya orang mati akhirnya mengungguli orang hidup, meskipun semasa hidupnya dia adalah orang jahat seperti interogator yang suka menyiksa atau orang baik yang dicintai seluruh keluarganya. Tak masalah siapa pun dirimu, tak masalah betapa lemah dan tak berdayanya dirimu, begitu kau mati kau tahu maknanya berada di sisi Tuhan, sedangkan orang hidup tidak tahu itu dan ketidaktahuannya menghantuinya sehingga dia meragukan keberadaan Tuhan.
(Garden of Water, halaman 132.)

Tuhan punya alasan untuk segalanya dan seorang manusia yang meragukan kebijaksanaan-Nya adalah orang yang sombong, egois, dan pasti terkutuk.
(Garden of Water, halaman 265.)

Kadang-kadang aku lupa. Anak-anak sangat bodoh. Mereka tidak memahami apa-apa. Mereka bisa begitu mudah menyakitimu, tapi sebenarnya merekalah yang terluka.
(Garden of Water, halaman 304.)

Menerima perlakuan pilih kasih adalah beban yang tidak boleh ditanggung anak mana pun.
(Garden of Water, halaman 310.)

Orang-orang menggunjingkan orang lain agar diri mereka lolos dari perhatian.
(Garden of Water, halaman 349.)

Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang tua. Aku selalu takut sesuatu akan terjadi padamu. Setiap hari Baba khawatir hidup akan memperlakukanmu dengan kejam.
(Garden of Water, halaman 351.)

Apa yang dikatakan orang selalu lebih buruk dari yang kau lakukan.
(Garden of Water, halaman 352.)

Tak ada yang bisa dikatakan pada orang yang sedang berduka. Kau hanya harus mendengarkan dan menerima apa pun yang mereka katakan sebagai kenyataan.
(Garden of Water, halaman 386.)

Itulah kelebihan yang menutupi kekurangannya. Tak ada manusia yang sempurna, ismail. Ada yang punya paru-paru yang lemah, ada yang punya mata yang lemah, dan ada yang punya jantung lemah. Baba punya kaki ini. Kalau kita sempurna, kita tidak akan membutuhkan Tuhan. Dia mengerti itu sehingga Dia menciptakan kita, Dia membuat kita tak sempurna agar kita tetap dekat dengan-Nya.
(Garden of Water, halaman 413.)

Jika seorang manusia punya satu mata yang sehat, dia tidak boleh mengutuk Tuhan karena masih bisa melihat.
(Garden of Water, halaman 414.)

Kalau dia dengan mudah menyerahkan agamanya, bukankah mudah juga baginya meninggalkan Irem—karena wanita yang lebih cantik, karena bosan, atau nyaris untuk apa pun?
(Garden of Water, halaman 443.)

Apa yang dikatakan orang-orang dan kenyataan sebenarnya sering kali adalah dua hal yang berbeda.
(Garden of Water, halaman 460.)

Seorang wanita, tampaknya, pada akhirnya akan selalu dilupakan.
(Garden of Water, halaman 481.)

Anak-anak kita bukan milik kita. Itulah kesalahan kita. Kita berpikir mereka milik kita. Sekejap memang tampak seperti itu—beberapa tahun yang singkat—tapi mereka bukan milik kita.
(Garden of Water, halaman 515.)

Seorang lelaki memahami apa yang dirasakan lelaki lain, yang tidak akan bisa dipahami oleh seorang wanita.
(Garden of Water, halaman 607.)

Tuhan punya rencana yang tak bisa kau kendalikan. Kau harus menerimanya, seberapa pun pahitnya. Terimalah dan rasa sedihmu akan memudar.
(Garden of Water, halaman 608.)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self