Ulasan Buku: Rumah Kertas
Judul :
Rumah Kertas
Penulis :
Carlos María
Domínguez
Penerjemah :
Ronny Agustinus
Penerbit & Kota :
Marjin Kiri, Tangerang
Selatan
Cetakan & Tahun :
Cetakan ketiga, 2018
Tebal halaman :
vi + 76 halaman
Ukuran :
19 x 12 cm
ISBN :
978-979-1260-62-6
Rating dari saya :
4,3/5
Tampak dari depan:
Tampak dari samping:
Tampak dari belakang:
Deskripsi dari
belakang buku:
“Kisah tak terlupakan
tentang dunia sastra, perpustakaan, dan kecintaan akan buku. Sebuah novel untuk
dibaca ulang berkali-kali.”
Critiques Libres
“Buku tipis yang bisa
menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.”
New York Times
Seorang profesor
sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang
membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa
sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad
yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos
Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa
pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan
kegilaannya!
“Sebuah mahakarya.” Frankische Landeszeitung
Buku fiksi sastra
ini dikarang oleh Carlos
María Domínguez, penulis kelahiran Argentina. Judul asli buku ini adalah “La
casa de papel” berasal dari bahasa Spanyol yang dalam bahasa Indonesia berarti
Rumah Kertas. Terbit pertama kali tahun 2002 oleh penerbit Ediciones de la
Banda Oriental, dan pertama kali diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia
pada tahun 2016 lalu.
Bercerita tentang kematian
seorang profesor sastra wanita di Universitas Cambridge, bernama Bluma, yang
ditabrak mobil ketika sedang membaca buku. Kemudian teman Bluma, yaitu tokoh “aku”
dalam buku ini menggantikan posisi Bluma sebagai guru besar sastra di
Universitas Cambridge. Tokoh aku dalam buku ini enggan menyebutkan namanya
sampai akhir cerita.
Di suatu hari setelah Bluma
meninggal, tokoh aku mendapatkan sebuah paket yang
ditujukkan untuk
Bluma. Paket tersebut bercap pos Uruguay, isinya berupa buku yang sampulnya dipenuhi
dengan serpihan semen kering. Tokoh aku dalam buku ini sangat penasaran dengan
kedatangan paket tersebut. Siapa pengirimnya? Mengapa buku ini
dikirim untuk Bluma? Mengapa ada semen-semen kering yang menyelimuti sampulnya?
Karena Bluma sudah meninggal sebelum menerima paket tersebut, tokoh aku dalam
buku ini pun memutuskan untuk mengembalikan buku ini kepada pengirimnya, juga menyelidiki asal-asul
datangnya buku ini.
Dalam perjalanannya untuk mencari
asal-usul buku tersebut, ia mendapati hal-hal tak terduga. Ia mendapati orang-orang yang memiliki kecintaan, atau lebih tepatnya disebut kegilaan terhadap
buku-buku.
Ini merupakan
buku yang layak dibaca oleh pecinta buku. Karena mungkin orang yang tidak
begitu suka pada buku akan menganggap buku ini gila! Saya serius! Sepertinya
hanya orang-orang yang mencintai buku yang akan suka dan mengerti terhadap isi dari buku yang saya ulas
kali ini. Meskipun buku ini sangat tipis, hanya 76 halaman, tapi buku ini
benar-benar gila! Serius, bagi teman-teman semua yang merasa dirinya mencintai
buku, kalian harus baca buku ini. Tapi jangan sampai kalian tertular virus GILA
dari buku ini ya, hehehe.
Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan. Berikut
kutipan favorit saya dari buku ini, yang sepertinya akan disukai juga oleh
teman-teman semua yang mencintai buku:
Buku mengubah takdir hidup
orang-orang.
(Rumah Kertas, halaman 1.)
Jauh lebih sulit membuang buku
ketimbang memperolehnya.
(Rumah Kertas, halaman 9.)
Sebagai pembaca kita saling
memata-matai perpustakaan kawan satu sama lain, sekalipun hanya di waktu
senggang. Kadang kita berharap menjumpai buku yang ingin kita baca tapi tidak
kita punya, atau mencari tahu apa yang sudah dilahap oleh kutu buku di seberang
kita ini.
(Rumah Kertas, halaman 10.)
Dunia orang hidup berisi cukup
keajaiban dan misteri sebagaimana adanya—keajaiban dan misteri yang mendaki
perasaan dan pemikiran kita dengan cara-cara yang begitu tak terjelaskan sampai-sampai
nyaris membenarkan konsepsi tentang hidup sebagai suatu kondisi kena sirep.
(Rumah Kertas, halaman 22.)
Membangun perpustakaan adalah
menciptakan kehidupan.
(Rumah Kertas, halaman 26.)
Dengan ditemani konser yang
indah, prosa yang payah bisa nampak jauh lebih bagus ketimbang sebenarnya.
(Rumah Kertas, halaman 42.)
Orang rupanya juga bisa mengubah
takdir buku-buku.
(Rumah Kertas, halaman 57.)



Comments
Post a Comment