Ulasan Buku: Muhammad Al-Fatih


Holla, kali ini saya akan mengulas sebuah buku sejarah Islam:
Judul                    : Muhammad Al-Fatih
Penulis                 : Ali Muhammad Ash Shalabi
Alih Bahasa           : Achmad Zaeni Dachlan
Penerbit & Kota     : Senja Media Utama, Sukmajaya
Cetakan & Tahun  : Cetakan pertama, 2018
Tebal halaman       : 304 halaman
Ukuran                   : 15 x 21 cm
ISBN                      : 978-602-6563-80-4
Rating dari saya    : 4,5/5
Tampak dari depan:

Tampak dari samping:

Tampak dari belakang:

Deskripsi dari belakang buku:
Al-Fatih seolah menjadi kunci dari kebangkitan Turki klasik (dahulu bernama Konstantinopel). Namanya berada dalam daftar mi’ah min ‘udzama ummah al-islami ghayyaru majra at-tarikh (seratus tokoh muslim yang merubah sejarah dunia) seperti yang tertulis dalam kitabnya Jihad Turbani. Bahkan al-Fatih atau yang biasa dikenal dengan sebutan Sulthan Muhammad II juga adalah orang yang ‘membuktikan’ kebenaran sabda nabi delapan abad sebelum kelahirannya tentang penaklukan kota qastantiniyah.

                Buku ini ditulis oleh Ali Muhammad Ash Shalabi, yaitu seorang sejarawan asal Libya. Isi dari buku sejarah ini mendeskripsikan tentang generasi Kesultanan Ustmani. Bagaimana asal mula, jatuh bangunnya, hingga akhirnya bisa menaklukan kota legendaris Konstatinopel, atau sekarang disebut dengan kota Istanbul.
                Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, mendeskripsikan tentang asal mula dan jatuh bagunnya Kesultanan Utsmani. Mulanya, Sulaiman (kakek Utsman) Hijrah bersama kabilahnya dari Kurdistan menuju Anatolia pada 617 H. Setelah Sulaiman meninggal, putranya yang bernama Erthughrul menggantikan posisinya sebagai pemimpin kabilah. Di perjalanan, Erthughrul melihat pertempuran antar kaum muslimin Saljuk dan orang-orang Kristen Romawi. Erthughrul dan kabilahnya pun memutuskan untuk bergabung dengan kaum muslimin Saljuk. Pertempuran pun dimenangkan oleh muslimin Saljuk. Atas bantuannya, komandan pasukan Saljuk memberi Erthughrul tanah untuk memperluas wilayah kabilahnya. Selepas Erthughrul meninggal, anaknya bernama Utsman menggantikannya.
                Utsman terus memperluas wilayahnya dan mendirikan Daulah Kesultanan Utsmani. Nama kesultanannya diambil dari nama Utsman sebagai pendirinya. Setelah Sultan Utsman meninggal, anaknya bernama Orkhan menggantikan tahta Kesultanannya. Singkat cerita, Orkhan meninggal dan anaknya yang bernama Murad menggantikannya. Kemudian pengganti tahta Murad setelah meninggal adalah anaknya yang bernama Bayazid.
Di masa Sultan Bayazid, Kesultanan Utsmani menghadapi masa kemunduran. Apalagi sepeninggalan Bayazid terjadi peperangan antar anaknya untuk memperebutkan tahta. Anak bungsu Bayazid yang bernama Muhammad Jalabi pun bisa mengalahkan saudara-saudaranya dan menjadi penerus tahta ayahnya. Kesultanan Utsmani berhasil disusun kembali oleh Sultan Muhammad Jalabi. Sultan Muhammad Jalabi mendapat julukan pendiri Daulah Utsmaniyah ke II, karena dia berhasil membangkitkan kembali Daulah Utsmani yang telah mengalami kemunduran dan kekacauan. Selepas Sultan Muhammad Jalabi meninggal, anaknya yang bernama Muhammad Al-Fatih lah yang menggantikan tahtanya, hingga akhirnya Daulah Utsmani berhasil menaklukan kota Konstatinopel di bawah pimpinannya.
Di bagian kedua, penulis fokus menuliskan masa-masa Kesultanan Muhammad Al-Fatih hingga berhasil menaklukan Konstatinopel sampai bagaimana akhir hayatnya, bagaimana kepribadian beliau, juga wasiat beliau untuk putranya yang akan menggantikannya. Penulis menjabarkan kepribadian beliau dengan rinci. Kepribadian kuat beliau lah yang kemudian mengantarkan bangsa Utsmani menuju kemenangan menduduki kota Konstantinopel.
                Buku sejarah ini juga meluruskan fakta sejarah yang ditulis oleh sejarawan non muslim. Di antaranya meluruskan: bahwa Kesultanan Utsmani tidak menculik anak-anak dan memaksa mereka memeluk agama Islam. Justru Kesultanan Utsmani bertindak sebaliknya, pada masa itu, jumlah anak-anak yang kehilangan orang tua akibat perang sangatlah banyak. Bangsa Utsmani pun terdorong hatinya untuk mengurusi mereka. Dan anak-anak tersebut sama sekali tidak dipaksa untuk masuk Islam. Mereka memang murni memutuskan sendiri untuk memeluk Islam sebagai agamanya. Juga meluruskan citra Sultan Muhammad Al-Fatih yang digambarkan buruk dan kejam oleh sejarawan non muslim. Padahal secara terang di dalam hadist, Nabi Muhammad telah menerangkan bahwa Konstantinopel akan ditaklukan oleh pasukan Islam. Sebaik-baiknya pemimpin adalah yang memimpinnya, dan sebaik-baiknya pasukan, adalah pasukannya. Faktanya Konstantinopel ditaklukan ketika kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih. Itu artinya Sultan Muhammad Al-Fatih adalah sebaik-baiknya pemimpin.

Ayo, teman-teman, kita membaca buku sejarah. Agar tahu kebenaran, dan kita pun bisa belajar dari kisah-kisahnya. Saya sangat merekomendasikan buku ini, apalagi untuk temen-temen sekalian yang beragama Islam. Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan ^^

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self