Ulasan Buku: Merayakan Kehilangan

Judul                      : Merayakan Kehilangan
Penulis                   : Brian Khirsna
Penerbit & Kota    : Mediakita, Jakarta
Cetakan & Tahun  : Cetakan pertama, 2016
Tebal Halaman      : 222 halaman
Ukuran                  : 13 x 19 cm
ISBN                     : 978-979-794-527-5
Rating dari saya     : 3.5/5

Tampak dari depan:

Tampak dari samping:

Tampak dari belakang:

Deskripsi dari belakang buku:
Aku sudah bahagia sekarang. Tak perlu kau cemaskan aku lagi.
Aku sudah ditemukan oleh seseorang. Yang seperti doamu dulu sebelum pergi meninggalkanku; yang akan benar-benar menyayangiku. Yang akan benar-benar mencintaiku.
Kini aku telah ditemukannya, seseorang yang mencintai aku sebesar cintaku kepadamu dulu; atau bahkan lebih.
Aku sudah bahagia sekarang. Tak perlu lagi kau khawatirkan kabarku.
Salahmu telah kumaafkan, luka olehmu telah tersembuhkan. Tak perlu lagi merasa bersalah karena meninggalkan aku, tak perlu lagi kau kasihani keadaanku. Hujan di kelopak mataku tak lagi memanggil namamu. Di dalam doaku namamu telah digantikan oleh nama yang baru.
Aku sudah bahagia sekarang. Terim kasih telah memutuskan untuk pergi. Caramu menyakitiku kemarin, adalah cara Tuhan mempertemukan aku dengannya; Hari ini.

                Sedikit bercerita, buku ini saya beli ketika saya masih duduk di bangku kelas 2 SMK pada tahun 2016, ketika buku ini baru saja terbit. Sebenarnya, saya tidak begitu tertarik pada bukunya, namun karena melihat iklan di Instagram, bahwa buku ini beredisi TTD penulis + bag pouch, saya jadi terpincut. Entahlah, waktu itu saya masih berpikiran bahwa mendapatkan buku ber-TTD penulisnya adalah sebuah keharusan. Dan akhirnya saya pun membeli buku ini.

                Buku ini ditulis oleh Brian Khirsna, dan merupakan buku pertamanya. Saya pikir buku ini adalah sebuah novel, namun ternyata buku ini adalah buku kumpulan sajak dan quotes bertemakan patah hati. Namun walaupun buku ini berisi kumpulan sajak, tapi sajak dari awal hingga akhir memiliki kesinambungan cerita.
Yang bisa saya tangkap, sajak-sajaknya menceritakan seorang lelaki yang patah hati karena ditinggal kekasihnya, lalu ia bangkit mengobatinya sendiri dan akhirnya menemukan perempuan lain yang selama ini dia cari dan ia do’akan. Alurnya cukup klasik untuk cerita-cerita remaja.
                Bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat ‘remaja’. Mungkin anak-anak ABG akan menyukainya. Ditambah lagi buku ini bercerita lewat sajak, jadi tidak akan membosankan ketika dibaca.
Kata-kata yang digunakan dalam buku ini sangat sentimentil, saya menduga bahwa buku ini adalah pengalaman pribadi penulisnya. Karena kata-katanya mencerminkan sekali bahwa penulis begitu menjiwai ke-patah hatian dalam buku ini. Hihi itu hanya dugaan saya sih. Karena saya sendiri bisa menulis sesuatu secara sentimentil kalau memang saya pernah mengalaminya.
                Saya tidak merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh orang-orang yang sedang patah hati ya, karena sepertinya buku ini akan kembali membukakan luka, yang akhirnya menyebabkan gagal  move on. Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh orang-orang yang pernah tersakiti saja, yang sekarang sudah menemukan rumahnya. Jadi mungkin mereka bisa mengingat kembali bagaimana caranya mereka berhasil sembuh hingga perjuangannya berbuah menjadi cinta yang selama ini dicari. Wkwkwk. 😄
Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan di ulasan kali ini. Sampai jumpa di ulasan selanjutnya 🙂

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self