Menyiapkan 2019

Tahun 2019 tinggal menghitung hari, tak terasa hari demi hari dilewati hingga akhirnya kita akan meninggalkan tahun 2018. Harapan setiap orang ketika menyambut tahun baru pastinya ingin menjadi pribadi yang lebih baik, dengan pencapaian yang lebih baik pula. Namun bedanya, ada yang merealisasikan harapannya, ada juga yang hanya menjadikan harpan itu sebatas angan.

Pasti banyak kejadian menyakitkan yang kita lalui di tahun ini. Pasti juga banyak kejadian menyenangkan yang kita lalui. Hal seperti itu sudah biasa terjadi. Memang begitulah roda kehidupan. Kita tidak semestinya terheran-heran.

Di tulisan kali ini, saya akan mengajak teman-teman pembaca, termasuk mengajak diri saya sendiri untuk merenung dan menjelajahi diri.
Sumber gambar: Google Image

Mari kita mundur ke belakang untuk melihat rekam jejak kita di awal tahun 2018. Ingat lagi bagaimana dan sejauh apa kita memperbaiki diri. Ingat pula bagaimana dan sejauh apa pencapaian kita. Mungkin masih ada kebiasaan buruk yang belum kita usir. Mungkin masih ada mimpi-mimpi kita yang terkubur, atau mungkin kita sendiri yang menguburnya karena suatu alasan yang menyakitkan.

Apapun alasannya, tidak semestinya kita mengubur mimpi kita. Saya pernah bermimpi. Sangat tinggi. Namun ketika saya hendak merintisnya, semesta seolah tak merestui mimpi saya. Saya terus mencoba merintisnya, namun tetap saja semesta tak memberi celah izin. Saya merasa patah, sepatah-patahnya. Semangat saya hancur, energi saya lebur. Saya menangis setiap malam meratapi mimpi itu. Hingga tibalah saya pada suatu titik jenuh; akan sampai kapan saya terus meratapi mimpi yang semu? Pikir saya. Saya pun memutuskan untuk bangkit—kembali menyusun mimpi yang baru. Dan perlahan, Alhamdulillah, semesta pun tampaknya merestui mimpi saya. Meskipun saya masih merintisnya, namun tak apa, saya sangat senang menikmati semua pahit manis prosesnya.

Saya selalu ingat pesan Andrea Hirata pada bukunya yang berjudul Sang Pemimpi: Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” Saya mempercayai, dan akan terus percaya pada kalimat berenergi besar itu.
Sumber gambar: Google Image

Teman-teman, di hari-hari terakhir penghujung tahun ini, mari kita introspeksi diri. Susun apa saja sikap yang mesti kita ubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Jika kesulitan untuk mengintrospeksi diri, kita bisa meminta bantuan kepada keluarga atau sahabat yang sangat dekat dengan kita. Mereka pasti mengenal kelebihan dan kekurangan kita dengan baik. Tanyakan saja kekurangan apa yang mesti kita hilangkan.

Bukan hanya kepribadian kita saja yang harus lebih baik, pastinya pencapaian kita pun harus lebih baik pula dari tahun sebelumnya. Mari kita menyusun pencapaian baru untuk tahun 2019. Atau boleh-boleh saja kita menyusun kembali rencana pencapaian yang belum sempat tercapai di tahun 2018.

Dalam penyusunannya, jangan lupa untuk menengok ke belakang. Coba ingat kembali hal apa saja yang jadi penghalang kita di tahun sebelumnya, kegagalan apa saja yang kita alami di tahun sebelumnya. Kita bisa belajar dari sana. Kita juga bisa menyiapkan diri jikalau hal-hal buruk seperti itu terjadi lagi.

Dalam setiap proses, tidak mungkin kita tidak mengalami yang namanya masalah. Sejatinya hidup itu adalah masalah. Jadi, kita harus pandai untuk memotivasi diri. Lakukan apa saja yang bisa membuat kita termotivasi. Seperti bergaul dengan orang-orang positif, membaca buku atau menonton film motivasi, atau apapun itu. Tapi jangan hanya mengandalkan motivasi dari luar, kita juga harus bisa membangun motivasi itu di dalam jiwa kita.

Masa depan itu misteri, kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi nanti. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Itulah sebabnya kita harus mempunyai rencana, membekali diri, dan menyiapkan diri.

Teman-teman, dengan menulis secangkir motivasi ini, bukan berarti saya sudah baik. Saya hanya ingin berbagi dengan tulisan sederhana ini. Siapa tahu, tulisan sederhana ini ada manfaatnya. Siapa tahu, dengan tulisan sederhana ini, ada yang terbangun kembali dari kepatahannya. Memang tidak seberapa yang saya bagi—hanya tulisan yang begitu sederhana dan penuh kurang. Namun saya tak berhenti berharap bahwa tulisan sesederhana ini bisa mengobati sebagian pembacanya untuk berenergi kembali.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya. Dengan penuh harap, semoga hal-hal baik datang menghampiri kita, semoga esok lusa kita mendengar kabar-kabar baik yang selama ini kita tunggu. Aamiin.

Comments

  1. Jika kita mempunyai mimpi tapi seseorang yang berharga bagi kita malah menjadi penghalang untuk mencapai mimpi tersebut, apa yang akan kamu lakukan?

    ReplyDelete
  2. Ask anonim.
    Jika banyak orang yg menyukaimu dan tidak sedikit orang yg memperjuangkanmu, Maka jika kamu tidak menyadari nya titik letak yg salah itu dimana?
    *only asking*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self