Ulasan Buku: Bom Sang Teroris


Buku yang akan saya ulas kali ini merupakan buku pemberian dari Jagad Buku Jogja (@jadagbuku_jogja), sebagai hadiah giveaway karena saya telah menuliskan salah satu ulasan buku di Instagram, pada Juni 2017 lalu.
Judul                        : Bom Sang Teroris
Penulis                     : Albert Camus
Penyadur                   : M. Muhajir
Penerbit & Kota       : Kreasi Wacana, Yogyakarta
Cetakan & Tahun     : Cetakan pertama, 2003
Tebal halaman         : 137 halaman
Ukuran                    : 14 x 22.7 cm
ISBN                        : -
Rating dari saya      : 4/5

Tampak dari depan:

Tampak dari samping:

Tampak dari belakang:

Deskripsi dari belakang buku:
Kisah dalam novel ini dibuat oleh Albert Camus berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Rusia pada bulan Februari tahun 1905. Sebuah kisah tentang pergulatan batin para teroris yang begitu mendalam pada tokoh-tokohnya, sehingga kita bisa membandingkan tindakan teror yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam karya ini dengan kelompok teroris sekarang ini. Bahwa teror yang dilakukan oleh mereka yang dituturkan oleh Albert Camus dalam novel ini mempunyai sasaran yang terpilih, biasanya kalangan atas dan atau pemimpin politik atau kepala negara. Sementara sekarang ini warga sipil pun telah dimasukan dalam target penyerangan oleh kelompok dan negara adidaya berperilaku teroris.
Pembaca akan menemukan pergulatan yang hebat di antara anggota teroris dalam novel ini ketika Kaliayev, salah satu tokoh yang diberi peran protagonis oleh pengarangnya menolak untuk melemparkan bom pada anak-anak. Di dalamnya Camus ingin menunjukan bahwa tidak ada tindakan yang tanpa batas. Tindakan baru dikatakan adil dan benar kalau ia mengakui batasan-batasan, kalau melewatinya harus menerima kematian.
Dalam kisah ini, Camus juga memunculkan sebuah ironi. Dengan kontradiksi-kontradiksi dalam diri para teroris, justru ketika mereka bercita-cita hendak menghancurkan segala kontradiksi yang ada di masyarakat. Dengan berbagai konflik yang mudah dicerna, pembaca disuguhi alur konflik yang mengantar sang tokoh ke tiang gantungan.
Novel ini sebenarnya adalah saduran dari drama karya Albert Camus yang berjudul “Les Justes” yang diterbitkan tahun 1947. Kami sengaja menyadurnya ke dalam bentuk novel dengan asumsi bahwa bentuk karya novel akan lebih memudahkan pembaca dalam mencerna apa yang ingin disampaikan oleh Albert Camus dalam karyanya ini. Selain juga kami beranggapan bahwa bentuk karya sastra drama belum begitu familiar untuk dikonsumsi poblik. Apakah memang benar seperti itu?

Sesuai dengan deskripsi dari belakang bukunya, buku ini merupakan buku saduran dari karya Albert Camus yang berjudul “Les Justes”. Buku ini mendeskripsikan bagaimana gejolak hati dan pikiran teroris yang jarang kita ketahui. Bagaimana mereka memantapkan niatnya, hingga mereka merasa tidak takut untuk hukuman gantung, atau bom bunuh diri sekalipun.
Tokoh utama dalam buku ini, Kaliayev, diperintahkan untuk melempar bom kepada Pangeran Rusia oleh kelompok terorisnya. Setelah kejadian itu, Kaliayev tertangkap polisi, dan mendapat hukuman gantung atas perbuatannya. Sebelum eksekusi hukuman itu berlangsung, Kaliayev dipenjara terlebih dahulu. Di dalam penjara, Kaliayev tidak menyesali perbuatannya sama sekali, bahkan ketika ada seseorang yang ingin membantu untuk meringankan hukumannya, Kaliayev menolaknya. Ia menerima hukuman itu dengan senang hati, tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun.
Kelompok teroris itu diketuai oleh Boria, dengan para anggotanya yang bernama: Stepan, Yanek, Kailayev, Voinov, Foka, dan satu anggota perempuan bernama Dora. Para teroris di buku ini melancangkan aksinya demi mewujudkan teori revolusi mereka, untuk menguasai dunia. Karena otak mereka sudah tercuci, mereka memandang tindakannya sebagai suatu kebenaran.
Sebelum mereka melancangkan aksinya, pembaca akan tahu bagaimana keresahan mereka. Walaupun teroris psikopat, tapi hatinya tetap direlung keresahan pada saat mereka akan melancangkan aksinya. Pembaca juga akan tertegun dengan pandangan mereka. Bagaimana artinya keadilan dari sudut pandang teroris, bagaimana mereka memandang tindakannya sebagai kebenaran.

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan. Saya ingin mengulas buku tanpa menspoiler alurnya, agar pembaca bisa berimajinasi sendiri dengan alur di buku. Hehehe 😄

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self