Kontradiktif
Mengapa manusia suka sekali berpura-pura di siang hari, dan kemudian pada malam hari mereka suka sekali berkeluh-kesah tentang hari yang telah dilewatinya?
Manusia kurasa begitu.
Kurasa.
Aku seperti itu.
Tapi aku benar-benar suka dengan malam.
Aku menyukainya karena kelamnya meneduhkan.
Dia pandai sekali membuatku nyaman sehingga aku tidak bisa mengontrol apakah yang aku bicarakan itu sebuah rileksasi ataukah sebuah gerutuan.
Tidak seperti siang,
Sebanyak apapun aku menggerutu, malam malah semakin teduh dan suasananya semakin dingin.
Tidak seperti malam,
Aku menggerutu ataupun tidak, siang malah semakin panas. Dan sinarnya tentu semakin membakar.Manusia kurasa begitu.
Kurasa.
Aku seperti itu.
Tapi aku benar-benar suka dengan malam.
Aku menyukainya karena kelamnya meneduhkan.
Dia pandai sekali membuatku nyaman sehingga aku tidak bisa mengontrol apakah yang aku bicarakan itu sebuah rileksasi ataukah sebuah gerutuan.
Tidak seperti siang,
Sebanyak apapun aku menggerutu, malam malah semakin teduh dan suasananya semakin dingin.
Tidak seperti malam,
Tapi tidak sepenuhnya juga kusalahkan siang. Dia jadi sumber kehidupan, meskipun terkadang panasnya begitu menyebalkan.
Dan malam.
Tidak sepenuhnya juga kusukai. Meskipun dia jadi tempat pulang semua manusia, tetapi...
Gelapnya sesekali bisa membutakan.
Gelapnya sesekali bisa membutakan.
Sumber gambar: Google Image

Comments
Post a Comment