Surat untuk Siapapun yang Pernah Kulukai

Introduction:
Aku terilhami untuk menulis surat ini ketika aku tidak sengaja melihat salah satu postingan orang yang pernah melukaiku di beranda Instagram. Sudah tidak ada lagi rasa benci, apalagi dendam di hatiku terhadapnya. Aku sudah sangat memaafkannya. Aku hanya mengingatnya sebagai orang yang telah memberiku pelajaran saja. Tanpanya, mungkin aku tidak akan pernah sadar betapa pentingnya untuk menjaga dan menghargai perasaan orang lain.

Aku langsung mengintrospeksi diri. “Aku juga pasti pernah melukai orang lain. Itu pasti.” Gumamku. Kemudian terbesit sebuah pertanyaan di kepalaku: “Apa kabar dengan mereka yang pernah kulukai? Aku tidak tahu siapa saja yang pernah terlukai olehku, lalu bagaimana caraku untuk meminta maaf kepada mereka?” Tak lama setelah munculnya pertanyaan itu, aku langsung membuka laptop dan menulis surat terbuka ini agar bisa dibaca semua orang, khususnya agar dibaca oleh kalian yang merasa pernah kulukai.

Rasanya tidak mungkin manusia sepertiku tidak pernah melukai orang lain. Aku sadar sikap dan sifatku masih belum bisa terkendali. Aku sadar egoku belum bisa kureda sepenuhnya, aku sadar attitude-ku terhadap orang lain masih kurang menyenangkan. Aku sadar—sangat sadar bahwa aku ini adalah perempuan moody yang menyebalkan.
The game of life is a game of boomerangs. Our thoughts, deeds and words return to us sooner or later with astounding accuracy.
Kutipan dari Florence Scovel Shinn itu semakin menyeretku untuk mengintrospeksi diri. Jadi kalau aku masih dilukai orang lain, mungkin saja aku masih melukai orang lain. “Coba introspeksi dulu dirimu, sebelum mengutuk orang yang menyakitimu, Nel!” *nunjuk cermin*

Isi surat:
Surat terbuka ini kutulis bagi siapapun yang pernah terlukai oleh tindakan ataupun perkataanku. Kuharap kalian, siapapun yang pernah kulukai, sudi untuk membaca surat ini...

Pedal pengendali diri belum bisa kukuasai sepenuhnya. Kadang aku mengayuhnya terlalu kencang tanpa memperhitungkan seberapa besar resikonya untuk menabrak. Kadang pula aku begitu hati-hati dan sangat teliti dalam mengarungi perjalanan. Itulah sebabnya aku menulis surat ini. Karena aku manusia yang belum bisa mengontrol pedalku sendiri.

Terkadang aku masih melalaikan janji dan ucapanku. Kadang aku begitu terburu-buru dan so jago sehingga aku melontarkan janji ataupun ucapan yang sebenarnya belum tentu bisa kulakukan. Aku merasa masih melakukan ingkar terhadap kata-kataku. Bagi kalian yang pernah kuingkari, aku tahu pasti rasanya sangat kesal, jengkel, kecewa, atau rasanya bisa lebih buruk dari kemungkinan itu. Untuk kalian yang merasa pernah aku janjikan dan belum kupenuhi janjinya, kalian boleh menangihnya selepas membaca surat ini. Tagihlah, itu adalah tanggungjawabku. Aku akan sangat berterima kasih jika kalian mau mengingatkanku.

Aku punya penyakit malas membalas pesan atau mengangkat telepon kalau itu tidak sebegitu urgent. Aku merasa sering mengabaikan kotak pesan di Whatsapp ataupun sosmedku. Apalagi pesan yang hanya berisi: “Hai, boleh kenalan?” aku biasanya menghapus pesan iseng itu bahkan sebelum membacanya. Tidak bermaksud sombong. Aku hanya kurang suka saja menghabiskan energiku untuk membalas pesan ataupun telpon yang sekiranya tidak sebegitu penting. Tapi sepertinya kelakuanku itu kurang baik. Pasti ada sebagian orang yang merasa terabaikan dengan kelakuanku itu. Sepertiya aku harus belajar menghargai dan lebih ramah tamah lagi.

Manusia mana sih yang suka diremehkan? Dibandingkan? Dijudge? Dilabeli? Pasti tidak ada bukan? Aku pun paling tidak suka diperlakukan seperti itu, rasanya sangat menyebalkan dan menyesakkan dada. Tapi kurasa... aku masih melakukannya. Aku masih bisa meremehkan orang lain. Aku masih bisa menjudge orang lain secara terburu-buru tanpa mengerti terlebih dahulu permasalahannya. Di luar sana aku yakin pasti ada orang yang pernah tersakiti oleh kata-kataku. Ternyata aku ini kotor. Ternyata aku masih bisa jadi toxic. Aku harus membersihkan diri dari prasangka dan rasa julid. Aku harus melatih pikiranku supaya terbebas dari stigma negatif terhadap orang lain. Aku juga harus menjernihkan hatiku supaya aku tidak gampang melabeli orang lain.

Apa lagi ya...
Rasanya tanganku mulai kelu untuk menuliskan kesalahan apa lagi yang pernah kuperbuat. Yang pasti kesalahanku masih banyak. Tapi aku tidak menyadari sepenuhnya bagian mana saja dari tindakan, ataupun perkataanku yang pernah membuat kalian terluka. Aku memang tidak cukup tahu diri untuk menyadarinya. Sepertinya egoku masih sangat tinggi.

Aku tidak tahu seberapa besar atau kecilnya luka yang pernah kuberi pada kalian. Aku tidak tahu juga seberapa besar atau kecil dampaknya terhadap kehidupan atau cara pandang kalian. Maafkan aku...

Kuharap selepas membaca surat ini, kalian bisa memberitahu semua kesalahanku agar aku bisa memperbaikinya.

Sepertinya tangaku memang sudah kelu. Langsung saja kutulis inti dari surat ini: “Untuk kalian yang pernah terlukai olehku. Dengan segala kerendahan hati, aku memohon maaf atas semua kesalahanku. Aku meminta kelapangan hati kalian.”

Dan untuk kalian yang sudah memaafkanku bahkan sebelum aku meminta maaf, aku tak bisa membendung berapa banyak kata “Terima kasih” untuk kalian. Terima kasih telah melapangkan hati kalian untuk kesalahanku.

Memaafkan memang tidak semudah mulut mengucapkannya. Tapi, semua manusia bisa melakukan kesalahan, bukan?

Dengan penuh maaf,

Nelly

Sumber gambar: Google Image


Comments

  1. Kadang orang bilang waktu menyembuhkan luka hati. tapi mereka salah, sesungguhnya kita lah yang menyembuhkan diri sendiri. tanpa kerelaan untuk memaafkan dan menerima apa yang terjadi, luka hati tidak akan sembuh dengan sendirinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap. Waktu emang menyembuhkan luka. Tapi kita bisa mempercepat penyembuhannya dengan berlapang dada. Meskipun memang sulit.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self