Semoga, ya

Aku bekerja sebagai staff admin di salah satu perusahaan tekstil yang berada di dekat daerahku.
Ceritanya hari ini sedang datang barang dari rekanan lain. Aku pergi ke gudang untuk membuat FTB-nya sebagai bukti penerimaan. Pak supir pembawa barang duduk di kursi dan membuka cakap kepadaku:

“Sudah berapa lama, neng, kerja di sini?” ujarnya. ‘Neng’ adalah sebutan untuk seorang gadis dalam bahasa sunda.
“Satu tahun lebih, pak”
“Betah, neng?”
“Ya namanya kerja, pak. Dibetah-betah aja.” Jawabkku sambil tertawa.
“Hahaha...” Pak supir tertawa
“Susah suksesnya ya, neng, kalau kita kerja.”
“Hehehe... Iya pak. Tapi ya gimana lagi” Ujarku.
“Kita rajin kerja pun yang makin kaya malah bos”
“Hahahaha” Kami tertawa bersama.
***

Percakapan singkat dengan pak supir itu membuatku teringat kembali dengan angan-anganku. Ah, Pak supir. Sebenarnya akupun tak ingin seperti ini, tapi bagaimana lagi? Aku harus tetap hidup. Aku bukan seorang kapitalis yang punya banyak uang.

Setelah beres membuat FTB, aku kembali lagi ke kantor untuk menginput data, dan mencuri-curi waktu untuk menulis cerita ini. Kuputar lagu kepunyaan Nostress yang berjudul ‘Semoga, ya’ sambil mengenang kembali angan-angan terpendamku.

Ya Tuhan, sebenarnya aku punya keinginan. Sebenarnya aku punya cita-cita. Tapi karena aku terlalu sibuk dengan tuntutan ini itu, jadinya hingga sekarang aku abai dengan angan-anganku itu. Setiap hari aku selalu ingat dan memikirkannya. Tapi lagi, angan-angan itu tertunda karena tanggungjwabku yang lain.

Huftt. Aku menghela nafas, panjang. Setiap aku ingat dengan angan-anganku itu, aku pasti memutar lagu ‘Semoga, ya’.

Semoga, ya. Gumamku dalam hati. Tapi aku diingatkan dengan lirik terakhir lagu itu: “Ya semoga tak ada guna bila ku masih diam saja”

Sumber gambar: Google Image

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self