Melatih Duga dan Prasangka
Makin tumbuh, berkembang— banyak
mendengar, melihat, menyaksikan, makin sadar kalau hidup itu bukan hanya
tentang hitam dan putih.
Aku kenal seorang yang sangat
ceria. Dia suka berhura-hura. Bernarsis ria di sosial media. Di balik itu, aku tahu
beban hidupnya tidak mudah. Orang lain hanya mengenalnya sebagai orang yang
suka ber-haha hihi, hedon sana sini. Padahal itu adalah cara dia untuk menutupi
semua kepelikkannya.
Maksudku, dunia ini bukan sekadar tentang benar atau salah, buruk atau baik, dan hal-hal yang bertolak belakang lainnya.
Aku kenal seorang kakak yang
banyak berkorban tuk adiknya. Dia merelakan mimpinya demi mimpi adiknya. Tapi
yang disanjung sedemikian rupa adalah adiknya, ya pasti karena adiknya terlihat
‘lebih’ menonjol. Padahal di balik meriuhnya pujian tuk sang adik, ada seorang
kakak yang memikul beban pilunya, berusaha tuk selalu menguatkan dirinya
sendiri.
Aku kenal seorang anak yang
tumbuh tidak dengan kasih sayang. Dia tumbuh jadi seorang yang cacat
kasih sayang. Dia sangat tertutup dan pemilih. Orang lain hanya mengenalnya
sebagai orang yang misterius, padahal tertutupnya dia adalah obat tuk diri
sendiri. Dia tidak mau membuka dirinya terlalu lebar karena takut terlukai.
Bukan tugas kita untuk menghakimi
benar atau salah, baik atau buruk, layak atau tidak. Sungguh, kita tidak pernah
tahu isi hati seseorang. Apa yang terlihat bisa saja bukan sesungguhnya yang
terjadi. Tugas kita seharusnya saling mendengarkan, saling mengerti, dan saling
berempati.
Aku jadi ingat kutipan Pramoedya di Buku ‘Bumi
Manusia’, bahwasanya kita harus bisa berlaku adil sejak dalam pikiran. Memang sulit ya, sulit sekali berjauhan dengan duga dan prasangka. Tapi setidaknya kita harus menyadari dan melatihnya. Bukankah tiap-tiap dari kita pun tidak ingin dihakimi?
Sumber gambar: Google Image

Comments
Post a Comment