Marriage is...

Kemarin sore ada rekan Mama yang datang ke rumah untuk meminta tolong. Dia datang dengan istri dan anaknya yang masih kecil. Aku sedang berada di kamar. Kamarku dan ruang tengah satu tembok, jadi aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

Singkat cerita, mereka sudah pulang. Aku menghampiri Mama ke ruang tengah, duduk di kursi sebelah Mama.

“Ma, kalau denger cerita atau kejadian seperti itu, aku merasa takut untuk kelak berumah tangga” Ucapku membuka percakapan.
“Jangan seperti itu, emang kamu gak inget dulu kehidupan kita seperih apa?” Hardik Mama.
Aku hanya senyum.
“Waktu kamu kelas satu SD, hidup kita lagi perih-perihnya. Mama tau bagaimana rasanya gak pegang uang satu perak pun. Mama ngerasain bagaimana rasanya kebingungan karena gak punya beras satu litter pun untuk makan. Tapi kan gak selamanya seperti itu. Alhamdulillah kehidupan kita sekarang cukup.” Ujar Mama.
Aku mencoba mengingat masa kecilku.
“Rezeki sudah ada yang atur. Jangan takut, yang penting kita sudah berusaha. Gak selamanya hidup itu di bawah dan gak selamanya juga hidup itu di atas. Yang penting berusaha, do’a. Jangan lupa sedekah dan zakat. Jangan merasa semua yang kita miliki itu adalah milik kita. Ada jatah orang lain di sana.” Mama diam sejenak.
“Takdir dan nasib orang itu beda-beda, dan kesusahan itu gak selamanya menetap. Mama selalu mendo'akan yang terbaik untukmu.” Lanjut Mama.
Aku hanya nyengir. Cengengesan.
***

Apa yang dikatakan Mama benar. Aku menyadari bahwa tidak ada kehidupan yang sempurna. Semua orang punya porsi senang dan sulitnya masing-masing. Memang seringkali rasa takut itu selalu ada...

Tapi bukankah bagus? Karena takut; aku jadi tidak terburu-buru, aku jadi tidak gegabah, aku jadi mempersiapkan diri, aku jadi menyadari kehidupan itu seperti apa, terlebih lagi berumah tangga itu seperti apa.

Lagi pula, di umurku yang menjelang 20 tahun ini, bukan waktunya memikirkan itu. Yang harus kukejar sekarang adalah mimpi, cita-cita, semua keinginanku, dan semua kebaikkan untuk masa depanku.
Sumber gambar: Google Image

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self