Korelasi Pandemi dan Cermin

Akhir tahun Desember 2019 lalu, ketika terjadi konflik laut di Natuna antara Tiongkok dan Indonesia, ada joke bahwa lima juta dukun Indonesia siap untuk serang Tiongkok menggunakan kemampuan supranatural mereka. Selang waktu dari sana, ada kabar dari Tiongkok bahwa ada kasus pneumonia misterius yang menyerang kesehatan warganya di Wuhan. Warganet +62 mulai berbondong-bondong membuat dan membagikan meme/joke terkait bahwa serangan dukun dari Indonesia berhasil menembus Tiongkok. Terdengar sangat lucu dan menggelitik. Namun siapa yang menyangka dalam rentang waktu 3 bulan, kasus pneumonia misterius di Tiongkok itu jadi monster yang menggentarkan dunia. Jelas ini bukan serangan supranatural dari lima juta dukun Indonesia untuk menyerang Tiongkok. Karena kejadian ini menghantui semua negara.

Ternyata kasus pneumonia misterius itu adalah virus menular yang sekarang diberi nama SARS-CoV-2 atau Covid-19, yang masih satu saudara dengan SARS-CoV, wabah yang juga menyerang di tahun 2002. Karena pesatnya penyebaran virus ini, WHO sampai memberi status ‘pandemi’. Mengutip data dari website WHO, hingga tulisan ini dirampungkan, ada 205 negara yang terdampak dengan 827.419 jiwa yang terinfeksi dan menyebabkan kematian bagi 40.777 jiwa. 🥀

Kita semua tentunya telah menyadari dampak luar biasa dari wabah ini; negara menghimbau gerakan #stayathome demi memutuskan rantai penyebaran virus. Acara dan kegiatan sosial, budaya, keagamaan, olahraga, hajatan, seminar, pameran, dan semua kegiatan yang bersifat mengundang kerumunan, dibatalkan. Sekolah dan Universitas ditutup untuk sementara dan menghimbau para murid dan mahasiswa untuk #belajardarirumah. Perusahaan dan Instansi yang memungkinkan para karyawannya untuk bekerja di rumah, diberi himbauan #bekerjadarirumah. Bahkan di luar sana, negara yang sudah sangat terdampak oleh virus ini menerapkan sistem lockdown. Kita semua telah mengetahui bagaimana huru-hara nya dunia saat ini. Pemberitaan dan media tidak bosan-bosan untuk memberikan informasi terkini terkait pandemi untuk memberikan literasi pada kita supaya lebih waspada.
Sumber gambar: Google Image

Ok. Saya rasa cukup introduction nya. Di sini saya akan sedikit berefleksi.

Pandemi ini menjelma cermin raksasa. Dunia terekam penuh oleh cermin pandemi ini. Kita, manusia, mungkin sedang diingatkan dan diperlihatkan kembali tentang apa-apa yang sudah kita perbuat.

Kita diperlihatkan bagaimana nyatanya ketimpangan sosial dan adanya lapisan kelas di masyarakat. Lockdown dan himbauan stay at home memang sangat efektif untuk memutuskan rantai penyebaran virus. Tapi hanya berpihak untuk lapisan kelas atas. Lapisan kelas bawah, apalagi mereka yang pendapatan ekonominya bergantung pada harian seperti pedangang kaki lima, tidak sepenuhnya bisa menerima begitu saja ketika ada himbauan stay at home. Saya yakin mereka sama-sama memiliki ketakutan. Saya yakin mereka juga inginnya di rumah saja. Tapi mereka takut kelaparan lebih dulu membunuh mereka dan keluarganya ketimbang virus ini.

Kita juga diperlihatkan bagaimana nyatanya dampak dari pergerakan manusia. Semenjak adanya himbauan stay at home, polusi udara menurun drastis dan suhu bumi tidak terlalu tinggi. Berbeda cerita ketika dunia masih bisa bergerak; polusi udara tinggi, suhu bumi tinggi, alam terus-terusan dikeruk energinya oleh manusia. Ketika manusia terkurung di rumah  nya masing-masing, bumi seolah sedang beristirahat dari tangan-tangan manusia dan pergerakannya.

Pula, kita diingatkan bagaimana seharusnya menjadi manusia yang benar-benar manusia. Kita sudah seharusnya saling berbagi, saling menolong, saling mengasihi. Pandemi ini banyak mengingatkan manusia pada kodratnya, pada Tuhan-nya, pada jalan pulangnya, pada apa-apa yang semestinya. Karena pandemi ini, banyak dari kita yang tergerak hatinya untuk saling menolong dan mengasihi; menggalang dana untuk kebutuhan PMI, membagikan kebutuhan pokok pada mereka yang kekurangan, membagikan masker dan pembersih tangan pada mereka yang terpaksa masih bekerja, dan banyak lagi rasa kasih yang telah kita lakukan. Rasa ke-aku-an di diri kita seolah runtuh karena kita semua menyadari bahwa pandemi ini tidak bisa dihentikan oleh segelintir orang. Semuanya harus bergerak bersama untuk menghentikannya.

Bumi seolah memberi jeda untuk dirinya dan menyuruh manusia pulang pada jalannya. Bumi memperlihatkan bahwa sehebat-hebatnya atau sesombong-sombongnya manusia, tetap saja tidak berdaya oleh mahluk yang bahkan tak kasat mata.

Juga, Tuhan berseru agar kita segera pulang pada pelukan-Nya. Tuhan ingin kita menemukan-Nya pada keheningan kita. Tuhan mengingatkan kita untuk selalu menggenggam nama-Nya di dalam sanubari kita. Tuhan menunjukan kuasa-Nya pada mahluk tak kasat mata untuk melawan kesombongan kita. Tuhan tidak ingin kita tersesat lebih lama lagi di jalan yang membutakan kita. Tuhan tidak ingin kita bertamak ria dan memenuhi semua kerakusan kita.

Kita sudah dihadapkan dengan cermin raksasa ini. Mari kita sadari. Mari kita segera pulang pada jalan yang sudah semestinya. Mari kita lawan pandemi ini bersama-sama. Saling menguatkan, saling menolong, saling mengasihi. Semoga Tuhan ridhoi kita. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self