Mencoba Yakin di Tengah Ketidak Pastian
Tahun ini umurku genap 20 tahun. Cukup banyak harapan yang kugantungkan. Jauh-jauh hari sebelum aku berumur 20, aku sudah menyiapkan banyak rencana. Semuanya kulakukan untuk menyambut umurku yang berkepala dua dengan lembaran baru. Tapi lagi-lagi manusia memang makhluk penuh batas, kita hanya bisa berencana. Lagi-lagi, kuasa semesta alam bergantung pada kehendak-Nya. Tahun ini ternyata dibuka dengan berbagai kabar yang menyesakkan hati, dengan musibah yang belum kunjung tertangani. Dengan kondisi dunia yang seperti ini, jelas manusia merasa lebih terbatasi, terlebih dengan semua keterbatasan yang memang melekat pada hakikatnya sebagai mahkluk.
Kemarin-kemarin, aku merasa tertekan sekali dengan kabar yang terdengar, terlihat, maupun terbaca di berbagai macam media. Belum lagi tertekan ketika memikirkan semua rencana yang telah kusiapkan. Aku menggantungkan rencana di langit tahun ini, tapi siapa dapat menduga bahwa sekarang rencana-rencana itu baru sempat tergantung pada lelangitan rumah. Kuyakin aku tidak sendiri, di luaran sana, atau mungkin sesiapa yang membaca tulisan ini, mungkin saja sama denganku. Punya harap tapi terhalangi ini dan itu di tahun yang cukup sulit ini. Kali ini aku menulis untuk meyakinkan kalau aku dan kita semua tidak sendiri. Saat-saat sulit seperti ini, aku tidak ingin merasa sendiri dan tidak ingin membuat orang lain merasa sendiri.
Akan sangat berarti ketika kita saling kuatkan, sekecil apapun bentuknya. Euporia kewaspadaan kita mungkin hari demi hari mulai terasa memudar karena penambahan kasus positif covid-19 yang setiap harinya masih ada. Mungkin karena penambahan kasus ‘setiap hari’ itulah yang membuat kita menjadi merasa terbiasa dan menurunkan kewaspadaan kita. Meskipun sekarang pemerintah sedang rajin-rajinnya membewarakan tatanan baru, a.k.a ‘new normal’, tapi kenyataannya di luar sana virus ini masih bermutasi, kurva penyebarannya belum turun ataupun stabil. Rasanya memang menyesakkan dada ya. Kita tetap harus waspada, menjaga jarak dan menjaga kebersihan. Tapi yang paling penting dari itu semua, kita harus tetap merasa tenang dan berusaha berbahagia walaupun situasi sedemikian rupa. Dunia ini sudah penuh dengan ketidak pastian dan ketidak tenangan. Jangan tambah ketidak tenangan itu pada hati kita. Itu akan semakin memberatkan, bahkan bisa sampai membuat kita ‘gila’.
Di situasi seperti ini, kita perlu rajin menghibur diri. Kita tak bisa mengelak bahwa musibah ini menyeret segala aspek bahkan sampai psikis. Lakukanlah kesenangan yang bisa kita ciptakan sendiri, sekecil apapun itu. Kita juga perlu ‘puasa’ dari melihat berita. Menurutku gak ada salahnya kita berhenti sejenak untuk melihat kabar dunia tentang hari-hari ini. Itu bisa memberi kita rasa rileks dari kesesakan informasi. Ada baiknya juga jika kita saling menanyakan kabar dan saling sapa ataupun berbincang ringan dengan sanak-saudara ataupun teman, walaupun hanya berbentuk digital. Rasa saling menolong juga akan sangat membantu di situasi ini. Kita coba bantu sesiapa yang membutuhkan bantuan semampunya kita. Itu semua akan terasa sangat berarti, walaupun hanya hal-hal kecil.
Bagiku, hari-hari di situasi seperti ini adalah kesempatan untuk kembali memeluk diri. Ketika semuanya normal, seringkali aku setiap harinya dituntut melakukan ini dan itu yang tidak aku senangi. Mengejar angka-angka dunia yang sama sekali tidak kunikmati. Kini, aku bisa lebih bersantai dari tuntutan-tuntutan itu. Aku bisa kembali berefleksi, membaca tumpukan tsundoko, mempercantik ruang tidur, dan masih banyak hal-hal kecil yang bisa kulakukan dan tentu saja kita semua lakukan. Kita semua khawatir, tentu saja. Tapi tidak baik juga memikirkan sesuatu yang bukan kuasa tangan manusia. Semoga kita masih bisa melihat hikmah dan keindahan dari hal-hal kecil di tengah arus ketidak pastian ini. Kita tidak bisa berdamai ataupun hidup berdampingan dengan corona seperti apa yang Bapak Presiden bilang. Karena corona ini bukan sesuatu yang baik untuk kita. Walaupun saat ini rasanya ‘keyakinan’ sudah terlihat abstak, tapi kita semua harus tetap yakin dan meyakinkan diri; bahwa kita bisa bertahan dan mampu melewati semuanya.
Sumber gambar: Pinterest

Smngat nell ..
ReplyDeleteSegala sesuatu pasti akan tercapai kalau sudah waktunya .. :)
Semangat juga kang Imam. Terima kasih sudah berkunjung ke sini :)
Delete