Surat Jika Kelak Aku Tua

Aku tidak mau gegabah menilik masa depan seperti apa. Bahkan aku pun tak tau apakah 5 tahun ke depan, aku masih hidup atau tidak. Semakin lama aku hidup, semakin aku sadar jika tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali kematian. Tapi izinkan aku menulis ini.

Menulis adalah salah satu bentuk menolak lupa. Aku ingin menulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri di masa tua (kalau masih hidup). Semua yang kutulis ini adalah pengingat dariku dan untukku kelak jika aku tua. Bukan hanya orang tua yang punya hak untuk menasihati. Orang muda pun punya hak untuk di dengarkan. 

———
Aku tidak ingin jadi tua yang menyebalkan.
Orang tua memang lebih lama hidup dari kita, pengalaman hidupnya lebih banyak dari kita. Tapi tidak seharusnya jadi menyebalkan yang menakuti orang muda dengan narasi pengalaman gagalnya di masa muda.
"Sudah lulus sekolah cari kerja saja, bantu orang tuamu membiayai adikmu! Kami tidak sanggup membiayaimu untuk kuliah."
Tidak! Biarkan dia mencoba dulu, biarkan dia mencari jalannya dulu, biarkan dia mencari beasiswa atau bagaimana caranya supaya dia bisa kuliah kelas karyawan tanpa membebanimu. Jangan dulu matikan mimpinya sebelum dia memulai. Pengalaman burukmu di masa muda, belum tentu jadi pengalaman yang sama untuk dia. Setidaknya jika tidak bisa membantunya untuk mencapai, biarkan dia mencari jalannya sendiri. Jangan matikan hatinya sebelum dia memulai.

Aku tidak ingin jadi tua yang merasa paling tahu.
Orang tua membesarkan anaknya berpuluh tahun sebelum dia akhirnya punya kehidupan dengan teman sebayanya dan menikah dengan pasangannya. Sudah jadi naluri seorang anak untuk ingin terlihat baik di depan orang tua. Apalagi jika orang tua selalu menuntut anaknya untuk jadi yang terbaik. Kau tidak lebih tau bagaimana anakmu dari temen sebayanya atau pasangan hidupnya.
"Anak saya tidak seperti itu. Saya ibunya, saya lebih tau bagaimana anak saya!"
Tidak! Seorang anak punya topeng tersendiri di hadapan orang tua. Dia lebih sering membuka topeng itu dengan teman sebayanya atau pasangan hidupnya. Daripada merasa lebih tahu, lebih baik kau dengarkan pandangan tentang anakmu dari teman dan pasangan hidupnya. Dengar mereka.

Aku tidak ingin jadi tua yang denial.
Ilmu pengetahuan, semakin hari semakin berkembang. Entah itu mencakup teknologi, kesehatan, sosiologi, maupun ekonomi. Menolak perkembangan pengetahuan hanya karena tidak sama dengan pengetahuan semasa muda, adalah hal yang naif.
"Zaman dulu, anak muda itu tahan banting. Di didik sampai dipukuli tidak menangis. Sudah lulus bisa membiayai adik dan orang tua"
Tidak! Itu namanya kekerasan. Mungkin secara kasat mata memang terlihat tahan banting, tapi dibalik itu mereka tumbuh jadi orang tua yang mewarisi trauma kepada anak muda di zaman sekarang. Alih-alih denial, lebih baik melek pengetahuan sampai tahu apa itu mental health, apa itu sandwich generations. Putuskanlah rantai sandwich generations itu cukup sampai padamu saja. Jangan sampai mewariskan trauma ke generasi selanjutnya.

Aku tidak ingin jadi tua yang terus menyuapi.
Manusia perlu kecakapan hidup dalam segala situasi untuk bertahan. Dan kecakapan itu terbentuk lewat kemandirian.
"Kerja ditempat dekat saja, jangan jauh-jauh dari orang tua."
Dan ketika anaknya melakukan salah
"Jangan bikin malu orang tua, nanti Ibu tutupi dan urusi kesalahanmu"
Tidak! Biarkan dia terbang dan membangun sarang sendiri. Jika terus-terusan disuapi dan diurusi, dia tidak akan cakap hidup dan tidak bisa mandiri. Kemampuan hidupnya akan begitu-gitu saja karena kau terus menyuapinya. Biarkan pengalaman membawanya pada kesalahan, dari sanalah dia akan belajar dan melangkah.
———

Begitulah kira-kira yang ingin kusampaikan pada diriku di masa tua. Dan jika kelak aku tua, mungkin aku pun akan menulis juga surat yang berjudul "Surat Untuk Diriku yang Muda" yang isinya semua penyesalan hidupku atau kebodohanku di masa sekarang.

Sumber gambar: Pinterest 

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self