Perjalanan Percaya

Berapa kali kita percaya pada orang terdekat dan berakhir kecewa? Walaupun sudah kecewa, berapa kali kita mencoba percaya lagi kepadanya, hanya karena kita memakluminya? Dan berapa kali kita dikecewakan lagi, hingga hati lelah dan menolak? Akhirnya, kita merasa bodoh sendiri karena terus percaya kepada orang yang ingkar.

Percaya. Sebuah kata kerja yang melelahkan. Tidak dikerjakan dengan tenaga ataupun dengan uang. Namun lelahnya membuat hati redut dan kalut. Membuat semua energi terkuras habis. Membuat hati terasa sempit. Tapi, percaya kepada apa dulu yang dituju?

Jika kita percaya pada manusia, jelas hanya kekecewaan yang akan datang. Manusia tidak sempurna, dan menurut keyakinan kasarku, manusia tidak layak untuk dititipi rasa percaya. Entah orang itu sudah terpercaya bertahun-tahun, atau baru terpercaya kemarin sore, tidak berarti bisa menghindarkan ia dari lalai yang akhirnya mengecewakan. 

Perjalanan percaya. Lagi-lagi kita diingatkan bahwa manusia bukanlah tempat bersandar. Kepercayaan yang diletakan pada manusia begitu rapuh. Satu-satunya Dzat yang layak dan pantas untuk kita titipi kepercayaan, memang hanya Tuhan.

Perjalanan percaya. Sudah seharusnya kita melekatkan diri hanya kepada-Nya. Percaya kepada-Nya, membuat hati menjadi teduh dan tenang, menjadi syahdu dan lapang.

Jadi, bagaimana, masih menujukan manusia untuk percayai? Aku sih, sudah tidak mau.

Sumber gambar: Pinterest

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk Adik Laki-lakiku

Berdiskusi Diri

To My Self